Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

ZINC Kantongi Kontrak Penjualan Senilai US$27 juta

Meskipun sentimen penyebaran virus corona telah mendorong beberapa harga komoditas logam melemah, ZINC telah mengantongi kontrak penjualan hingga Juni 2020 sekitar 35.000 ton logam.
Finna U. Ulfah
Finna U. Ulfah - Bisnis.com 25 Maret 2020  |  16:10 WIB
Petugas mengawasi proses penimbunan batu bara di Tambang Air Laya, Tanjung Enim, Sumatra Selatan, Minggu (3/3/2019). - Bisnis/Felix Jody Kinarwan
Petugas mengawasi proses penimbunan batu bara di Tambang Air Laya, Tanjung Enim, Sumatra Selatan, Minggu (3/3/2019). - Bisnis/Felix Jody Kinarwan

Bisnis.com, JAKARTA - Emiten tambang logam PT Kapuas Prima Coal Tbk. (ZINC) telah mengantongi kontrak penjualan hingga Juni 2020 mencapai US$27 juta di tengah sentimen penyebaran virus corona atau COVID-19 yang menekan permintaan global.

Direktur Kapuas Prima Coal Hendra Susanto William mengatakan bahwa meskipun sentimen penyebaran virus corona telah mendorong beberapa harga komoditas logam melemah, perseroan telah mengantongi kontrak penjualan hingga Juni 2020 sekitar 35.000 ton logam.

Dari kontrak penjualan tersebut, sebanyak 24.000 ton merupakan penjualan zinc konsentrat dan sekitar 10.500 ton timbal dan perak. Mayoritas penjualan itu masih dibeli oleh China.

“Kami memprediksi [sentimen penyebaran virus corona] tidak akan terlalu berpengaruh karena kami sudah mengamankan kontrak penjualan hingga bulan Juni 2020 senilai US$27 juta,” ujar Hendra saat dihubungi Bisnis, Senin (23/3/2020).

Selain itu, perseroan menargetkan nilai penjualan tahun ini sebelum bunga dan pajak adalah sebesar US$80-85 juta. Dengan demikian, perseroan saat ini telah mengantongi sekitar 31,7 persen dari nilai penjualan yang ditargetkan tahun ini.

Hendra menjelaskan bahwa fluktuasi harga komoditas global merupakan risiko yang sudah sering dihadapi perseroan. Bahkan, dalam situasi saat ini perseroan justru tengah meningkatkan kapasitas produksi ore semaksimal mungkin, yaitu 5.000 ton ore per bulan.

Emiten dengan kode saham ZINC itu menargetkan produksi ore tahun ini sebesar 600.000 ton ore, lebih tinggi 33,3% dibandingkan dengan target tahun lalu sebesar 450.000 ton ore.

Adapun, perseroan telah merealisasikan produksi bahan mentah lebih tinggi daripada target tahun lalu di kisaran 467.000 ton ore.

Dalam kesempatan yang berbeda, Hendra sebelumnya mengatakan bahwa perseroan mengalokasikan belanja modal atau capital expenditure (capex) di kisaran US$60 juta hingga US$70 juta pada tahun ini. Hal itu sebagai salah satu upaya perseroan untuk menunjang peningkatan target produksi tersebut.

“Selain untuk peningkatan kapasitas produksi, capex tersebut juga digunakan untuk penambahan infrastruktur dan penambahan alat-alat berat,” jelas Hendra.

Di sisi lain, Hendra mengatakan bahwa saat ini pihaknya akan terus memonitori perkembangan ekonomi global dan dalam negeri yang diproyeksi melambat akibat sentimen penyebaran virus corona yang semakin luas.

Mengutip keterbukaan informasi perseroan di laman Bursa Efek Indonesia (BEI) yang dirilis pada Senin (23/4/2020), perseroan telah melakukan langkah preventif terhadap penyebaran virus corona sejak Januari 2020.

Perseroan mengawasi seluruh aktivitas keluar-masuk karyawan dan operasi perseroan, termasuk memonitor suhu tubuh, riwayat perjalanan, dan riwayat jenis penyakit selama 2-3 bulan terakhir. Perseroan pun melakukan penyemprotan disinfektan di setiap lokasi.

“Protokol ini kami jalankan baik di lokasi penambangan, pelabuhan, maupun kantor pusat sesuai dengan rujukan dari Pemerintah Pusat. Tujuan dari tindakan preventif ini untuk memastikan seluruh kegiatan produksi tidak terhambat,” jelas Hendra.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

batu bara Virus Corona
Editor : Novita Sari Simamora
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

Foto

BisnisRegional

To top