Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Rusia Enggan Pangkas Produksi, Harga Minyak Anjlok

Harga minyak anjlok usai Rusia menolak usulan OPEC untuk memangkas produksi di tengah gejolak harga akibat wabah virus corona yang menganggu permintaan.
M. Nurhadi Pratomo
M. Nurhadi Pratomo - Bisnis.com 07 Maret 2020  |  11:12 WIB
Anjungan lepas pantai. - Bloomberg
Anjungan lepas pantai. - Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA - Harga minyak anjlok usai Rusia menolak usulan OPEC untuk memangkas produksi di tengah gejolak harga akibat wabah virus corona yang  mengganggu permintaan.

Berdasarkan data Bloomberg yang dikutip, Sabtu (7/3/2020), harga minyak West Texas Intermediate (WTI) kontrak April 2020 turun 10,07 persen atau US$4,62 menjadi US$41,28 per barel pada penutupan perdagangan, Jumat (6/3/2020). WTI sempat tersungkur menyentuh level US$41,05 per arel atau terendah sejak April 2016.

Sementara itu, harga minyak Brent untuk kontrak Mei 2020 terkoreksi 9,44 persen atau US$4,72 ke level US$45,27 per barel. Harga minyak Brent sempat menyentuh US$45,19 per barel atau terendah sejak Juli 2017.

Dilansir melalui Bloomberg, pembicaraan OPEC + berakhir dengan kegagalan dari aliansi antara Arab Saudi dan Rusia sebagai penentu harga minyak mentah dan pengubah keseimbangan kekuasaan di Timur Tengah.

Rusia menolak untuk tunduk kepada kehendak Arab Saudi yang ingin memangkas produksi sebesar 1,5 juta barel per hari. Tujuannya, untuk mengimbangi permintaan di tengah penyebaran virus corona.

Akan tetapi, Rusia memiliki pemikiran lain. Negara itu memiliki ketahanan yang lebih kuat dengan harga minyak mentah murah. Bahkan, Rusia berpendapat bahwa harga minyak mentah urah akan menghilangkan persaingan dengan Amerika Serikat.

Sekretaris Jenderal OPEC Mohammad Barkindo masih mengharapkan Rusia akan kembali ke dalam perundingan.

"Kami berharap teman-teman kami dari Rusia perlu lebih banyak waktu untuk memikirkannya dan mungkin kembali. Kapan pun mereka ingin bertemu, bisa bertemu dalam 10 hari,” ujarnya seperti dikutip melalui Bloomberg, Sabtu (7/3/2020).

Sebelumnya, Mohammad memperkirakan pertumbuhan permintaan minyak hanya sebesar 480.000 barel per hari tahun ini. Jumlah itu turun dari prediksi 990.000 barel per hari yang dibuat bulan lalu.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Harga Minyak
Editor : Rivki Maulana

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top