Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Samindo Resources (MYOH) Bidik Proyek Energi

Sejak 2016, perseroan sudah mengikuti beberapa lelang proyek energi baru dan terbarukan (EBT). Namun, upaya tersebut belum membuahkan hasil.
Finna U. Ulfah
Finna U. Ulfah - Bisnis.com 25 Februari 2020  |  18:54 WIB
(Dari kiri ke kanan) Direktur Independen Samindo Resources Ahmad Saleh, Direktur Utama Kim Jung Gyun, Investor Relation Ahmad Zaki usai rapat pemegang umum saham tahunan di Jakarta, Kamis (25/4/2019). - Bisnis/Azizah Nur Alfi
(Dari kiri ke kanan) Direktur Independen Samindo Resources Ahmad Saleh, Direktur Utama Kim Jung Gyun, Investor Relation Ahmad Zaki usai rapat pemegang umum saham tahunan di Jakarta, Kamis (25/4/2019). - Bisnis/Azizah Nur Alfi

Bisnis.com, JAKARTA - Emiten kontraktor pertambangan, PT Samindo Resources Tbk., mengincar proyek independent power producer (IPP) berbasis energi baru dan  terbarukan (EBT).  Rencana ini merupakan bagian dari diversifikasi bisnis guna mengurangi ketergantungan terhadap lini sektor batu bara.

Investor Relations Samindo Resources Ahmad Zaki Natsir mengatakan perseroan berencana mengikuti lelang pencarian mitra kerja proyek IPP yang ditawarkan oleh PT Perusahaan Listrik Negara (Persero), terutama yang berbasis EBT. Sejak 2016, perseroan sudah aktif berpartisipasi dalam pelelangan sebagai operator namun tak kunjung membuahkan hasil.

“Kami mendapatkan info ada tender yang ditawarkan PLN untuk proyek EBT di awal tahun ini, kami saat ini sedang mempelajarinya, apakah memberikan dampak yang positif atau tidak terhadap Samindo Resources,” ujar Zaki saat dihubungi Bisnis, Selasa (25/2/2020).

Menurut Zaki, prospek bisnis batu bara cenderung konservatif pada tahun ini. Terlebih, China sebagai salah satu konsumen komoditas terbesar dunia, tengah diterpa wabah virus corona atau covid-19 sehingga banyak pabrik yang tutup.

Akibatnya, proyeksi pertumbuhan ekonomi China pada 2020 lebih rendah dibandingkan dengan pertumbuhan 2019. Kedua sentimen itu pun diyakini berdampak pada konsumsi energi China yang pada akhirnya mempengaruhi jumlah batu bara yang dikonsumsi, terutama dari Indonesia.

Di sisi lain, dua negara yang yang menjadi konsumen batu bara dunia, Amerika Serikat dan India juga diproyeksi tidak akan mengalami kenaikan permintaan yang signifikan. Bahkan, India tengah gencar mengembangkan energi terbarukan.

Sebagai kontraktor, emiten bersandi MYOH itu tidak terdampak langsung pergerakan harga batu bara. Namun, saat harga jatuh dan permintaan menyusut, target yang dibebankan kepada perseroan juga menurun.

Di sisi lain, perseroan belum memberikan keterangan lebih lanjut terkait panduan operasional dan alokasi belanja modal pada tahun ini. Zaki mengaku perseroan masih dalam tahap negosiasi kontrak baru setelah masa kontrak kerja dengan PT Bayan Resources Tbk. sudah berakhir pada tahun lalu.

“Kami tengah intensif melakukan pendekatan dengan beberapa perusahaan batubara untuk mencari project yang baru,” jelas Zaki.

Sepanjang 2019 perseroan berhasil mencatatkan kenaikan volume overburden removal sebesar 1,1 persen menjadi 55,2 juta bank cubic meter (bcm) dibandingkan dengan capaian pada tahun sebelumnya sebesar 54,6 juta bcm.

Selain itu, perseroan juga membukukan kenaikan hingga 13,7 persen untuk produksi batu bara pada 2019 sebesar 11,1 juta ton, lebih tinggi daripada volume produksi 2018 sebesar 9,8 juta ton.

Pada perdagangan Selasa (25/2/2020) harga saham MYOH berada di posisi Rp1.195 per saham, melemah 0,42 persen atau terkoreksi 5 poin. Sepanjang tahun berjalan 2020, saham telah bergerak di zona merah melemah 7,72 persen.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

batu bara aksi emiten
Editor : Rivki Maulana
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

Foto

BisnisRegional

To top