Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Indeks S&P 500 Tergelincir dari Rekor, Nasdaq Tertolong

Peringatan Apple bahwa penjualan akan meleset dari perkiraan menyulut kekhawatiran pada investor yang mengharapkan dampak ekonomi terbatas dari wabah virus corona mematikan tersebut.
Tanda Wall Street tampak di depan Bursa Efek New York (NYSE) di New York, AS./ Michael Nagle - Bloomberg
Tanda Wall Street tampak di depan Bursa Efek New York (NYSE) di New York, AS./ Michael Nagle - Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA – Indeks S&P 500 di bursa Wall Street Amerika Serikat (AS) tergelincir dari rekornya dan melemah pada akhir perdagangan Selasa (18/2/2020), setelah Apple menyampaikan peringatan tentang gangguan produksi dan permintaan akibat terdampak epidemi virus corona (Covid-19).

Berdasarkan data Bloomberg, indeks S&P 500 berakhir terkoreksi 0,29 persen di level 3.370,29 dan indeks Dow Jones Industrial Average melemah 0,56 persen ke posisi 29.232,19. Di sisi lain, indeks Nasdaq Composite mampu ditutup naik tipis 0,02 persen di level 9.732,74.

Peringatan Apple bahwa penjualan akan meleset dari perkiraan menyulut kekhawatiran pada investor yang mengharapkan dampak ekonomi terbatas dari wabah virus corona mematikan tersebut.

Raksasa teknologi asal Amerika Serikat tersebut pada Senin (17/2/2020) menyatakan bahwa pasokan iPhone, yang menghasilkan sebagian besar pendapatan Apple, untuk sementara ini dibatasi karena produksi meningkat lebih lambat daripada yang diantisipasi.

Selain itu, permintaan untuk iPhone telah berkurang karena toko-toko di China ditutup ataupun beroperasi dengan jam kerja yang berkurang dan sedikit pelanggan.

Meski demikian, penguatan saham Microsoft Corp., Amazon.com Inc., dan Facebook Inc. mampu memberi sedikit dorongan bagi kenaikan Nasdaq.

Investor masih berupaya untuk mencermati dampak perusahaan dan ekonomi dari virus corona, bahkan ketika tingkat pertumbuhan kasus di provinsi Hubei, China, jantung wabah ini, terus menunjukkan kestabilan.

Ini menjadi pergeseran sentimen dari Senin (17/2/2020), ketika sentimen terangkat oleh langkah-langkah pembuat kebijakan China untuk mendukung perusahaan-perusahaan di Negeri Tirai Bambu yang terdampak wabah virus ini.

“Pasar sebagian besar telah mengabaikan apa yang terjadi dengan virus corona dalam hal apa dampaknya, tetapi saya tidak yakin ini sepenuhnya sesuai,” ujar Jeff Mills, kepala investasi di Bryn Mawr Trust.

“Ini cenderung bersifat sementara dan ekonomi dapat bangkit kembali, tetapi ini berbeda dari apa yang kita lihat dengan SARS. China adalah bagian yang lebih besar dari ekonomi global,” ungkapnya.

Sejalan dengan Wall Street, indeks MSCI Emerging Market merosot 1,2 persen. Masing-masing indeks saham di Tokyo, Seoul, dan Hong Kong pun turun tajam lebih dari 1 persen.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Editor : Hafiyyan
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper