Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Strategi Mandiri Sekuritas di Bisnis Broker Saham

Perusahaan melakukan pembelian saham-saham bluechip dengan fundamental yang bagus agar terhindar dari kasus-kasus yang tidak diinginkan dan menjaga tingkat profit dengan optimal.
Lorenzo Anugrah Mahardhika
Lorenzo Anugrah Mahardhika - Bisnis.com 16 Februari 2020  |  19:24 WIB
Karyawan memantau pergerakan harga saham di kantor Mandiri Sekuritas, Jakarta, Rabu (11/10). - JIBI/Abdullah Azzam
Karyawan memantau pergerakan harga saham di kantor Mandiri Sekuritas, Jakarta, Rabu (11/10). - JIBI/Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA – Dalam kondisi pasar saham yang sedang lesu, alih-alih memilih memacu transaksi saham, PT Mandiri Sekuritas justru bersikap lebih hati-hati dalam menjalankan bisnis broker.

Direktur Mandiri Sekuritas Andy Bratamihardja menuturkan saat ini pihaknya menerapkan prinsip kehati-hatian dalam melakukan transaksi saham.

Perusahaan melakukan pembelian saham-saham bluechip dengan fundamental yang bagus agar terhindar dari kasus-kasus yang tidak diinginkan dan menjaga tingkat profit dengan optimal.

Prinsip tersebut juga dipegang dalam memilih klien yang akan menjadi mitra perseroan. Proses due diligence dan pemeriksaan berlapis dilakukan baik kepada calon investor institusi maupun ritel agar pihaknya tidak ikut terseret kasus-kasus yang tengah beredar.

Upaya ini dinilai akan meningkatkan keyakinan investor pada perseroan dalam mengelola sahamnya.

“Kami tidak mau mengambil jalan pintas yang nantinya akan berdampak buruk pada perusahaan. Semua prosesnya akan kami lakukan dengan hati-hati. Sejauh ini, perseroan belum terkena masalah yang signifikan dan kami berniat mempertahankan hal tersebut,” ujarnya kepada Bisnis.com, Jumat (14/2/2020).

Menurutnya, berbagai kasus besar terkait pasar modal di Indonesia seperti manipulasi saham Jiwasraya, pemblokiran rekening efek, dan gagal bayar reksa dana amat mengganggu kinerja sektor broker saham.

Ia mengatakan gangguan tersebut menyebabkan volume transaksi yang terjadi pada dua bulan pertama tahun 2020 mengalami penurunan. Hal tersebut, lanjutnya, terjadi baik pada investor ritel maupun investor dari institusi yang menjadi klien perusahaannya.

Andy melanjutkan, kenaikan jumlah transaksi saham hanya dapat terjadi apabila seluruh masalah tersebut sudah diselesaikan. Ia berharap otoritas-otoritas terkait persoalan yang terjadi dapat segera mengambil langkah konkrit agar jumlah transaksi saham dapat kembali naik.

“Solusinya hanya itu saja, semua masalah yang saat ini sedang melilit pasar saham Indonesia harus selesai terlebih dahulu,” ujarnya.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia, rata-rata volume transaksi harian pada perdagangan pekan kedua Februari 2020 mengalami koreksi 16,53 persen menjadi 5.170 miliar unit saham dari 6.194 miliar unit pada pekan sebelumnya.

Senada dengan rata-rata volume transaksi harian, rata-rata nilai transaksi harian juga mengalami koreksi 9,46 persen menjadi Rp6,22 triliun dari sebelumnya Rp6,87 triliun. Padahal, BEI menargetkan transaksi harian mencapai Rp9,5 triliun pada 2020, naik dari 2019 senilai Rp9,1 triliun.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

mandiri sekuritas
Editor : Hafiyyan
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

Foto

BisnisRegional

To top