Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Ini Penyebab Indeks Reksa Dana Campuran Melorot

Reksa dana campuran kebanyakan dihuni oleh investor dengan profil agresif mencari keuntungan.
Lorenzo Anugrah Mahardhika
Lorenzo Anugrah Mahardhika - Bisnis.com 13 Februari 2020  |  16:10 WIB
Reksa Dana Jeblok. - Bisnis.com
Reksa Dana Jeblok. - Bisnis.com

Bisnis.com, JAKARTA – Banyaknya investor yang agresif bermain di pasar saham dinilai menjadi penyebab utama kejatuhan indeks reksa dana campuran hingga akhir Januari 2020.

Head of Capital Market Research Infovesta Utama Wawan Hendrayana menjelaskan, reksa dana campuran pada dasarnya cocok digunakan untuk investor yang tidak nyaman masuk ke pasar saham. Namun, mereka ingin mendapat keuntungan yang lebih besar dibandingkan reksa dana pendapatan tetap.

Wawan menerangkan, saat ini pihaknya melihat instrumen investasi ini kebanyakan dihuni oleh investor dengan profil agresif mencari keuntungan. Profil tersebut pada umumnya memiliki portofolio yang didominasi pasar saham.

“Di sisi lain, pasar saham di Indonesia juga sedang anjlok karena beragam sentimen negatif seperti virus corona. Akibatnya, kinerja indeks reksa dana campuran juga ikut terpuruk,” katanya saat dihubungi, Kamis (13/2/2020).

Menurut Wawan, dari sisi obligasi, reksa dana campuran dapat menghasilkan performa yang baik. Keyakinan ini didukung dengan proyeksi penurunan suku bunga acuan oleh Bank Indonesia yang bisa berimbas pada penurunan imbal hasil (yield) obligasi. Hal itu selanjutnya berdampak pada kenaikan harga obligasi di Indonesia.

Sementara itu, pasar saham akan menekan upaya peningkatan nilai reksa dana campuran dalam tiga hingga enam bulan ke depan. Saat ini, investor dinilai masih wait and see untuk melihat dampak wabah virus corona terhadap perekonomian Indonesia dalam jangka waktu tersebut. Akibatnya, nilai IHSG pun akan sulit bergerak naik.

“Sebelumnya, kami memprediksi kinerja reksa dana campuran pada kisaran 7 persen hingga 8 persen. Melihat tren sekarang, kemungkinan bisa direvisi, tetapi kami masih akan menunggu laporan keuangan emiten-emiten pada kuartal I/2020,” ungkapnya.

Untuk saat ini, Wawan menyarankan para investor yang menggunakan reksa dana campuran untuk mengisi portofolionya dengan surat-surat berharga sebesar 60 persen. Adapun sisanya dialokasikan pada pasar saham dan pasar uang.

“Untuk pasar saham idealnya maksimal 20 persen, tetapi juga bergantung pada profil investor. Apabila sifatnya agresif, maka mereka juga harus mengetahui risikonya cukup besar dan harus memegangnya lebih lama,” pungkas Wawan.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

reksa dana
Editor : Rivki Maulana
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top