Rupiah Diprediksi Positif Meski Pertumbuhan Ekonomi Hanya 5,02 Persen

Analis Bahana Sekuritas Muhammad Wafi mengatakan capaian tersebut masih lebih baik dibandingkan pertumbuhan ekonomi negara lain di kawasan Asia Tenggara.
Feni Freycinetia Fitriani
Feni Freycinetia Fitriani - Bisnis.com 06 Februari 2020  |  14:08 WIB
Rupiah Diprediksi Positif Meski Pertumbuhan Ekonomi Hanya 5,02 Persen
Karyawan menata uang rupiah di Cash Center Bank BNI di Jakarta, Rabu (10/7/2019). Bisnis - Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA — Di tengah sejumlah ketidakpastian perekonomian global, Indonesia mencatatkan pertumbuhan ekonomi sekitar 5,02 persen. Meski demikian, indeks dan nilai tukar rupiah diyakini tetap bergerak positif.

Analis Bahana Sekuritas Muhammad Wafi mengatakan capaian tersebut masih lebih baik dibandingkan pertumbuhan ekonomi negara lain di kawasan Asia Tenggara. Salah satu tugas pemerintah yakni menumbuhkan sentimen positif bagi pasar uang.

‘’Pertumbuhan ekonomi sesuai dengan ekspektasi pasar sehingga tidak ada reaksi yang berlebihan dari pasar. Bahkan, penutupan perdagangan kemarin terlihat ada bargain hunting dari investor yang menilai pencapaian ini cukup positif dibanding negara lain," paparnya dalam keterangan resmi yang diterima Bisnis, Kamis (6/2/2020). 

Menurut Wafi, aksi beli investor asing diimbangi dengan aksi wait and see dari investor lokal yang masih fokus terhadap isu domestik di pasar keuangan. Investor juga menanti laporan keuangan 2019 sejumlah emiten yang masih akan keluar.

Tren Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan rupiah diperkirakan positif meski bergerak terbatas. Bahkan, ada kecenderungan sentimen positif perlahan mulai mengalahkan sentimen negatif baik akibat isu-isu domestik maupun tekanan dari global. 

Dengan sentimen positif yang akan mewarnai pasar uang domestik, Bahana memperkirakan IHSG akan berada di kisaran 5.970 – 6.015. 

"Sementara itu, rupiah diperkirakan berada pada range Rp13.600 – Rp13.750 sepanjang perdagangan hari ini," lanjutnya. 

Kemarin, nilai tukar rupiah berhasil kembali menghimpun tenaganya dan ditutup menguat 25 poin atau 0,18 persen di level Rp13.690 per dolar AS.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ekonomi tumbuh sebesar 4,97 persen pada kuartal IV/2019, sehingga Produk Domestik Bruto (PDB) sepanjang 2019 tercatat sebesar 5,02 persen. Angka ini di bawah target APBN yang ditetapkan sebesar 5,3 persen.

Namun, Wafi mengatakan pelemahan ini tidak hanya terjadi di Indonesia karena negara tetangga juga mengalami hal serupa. Dia menuturkan Malaysia membukukan pertumbuhan ekonomi sebesar 4,4 persen hingga kuartal III/2019, lebih rendah dari pencapaian kuartal sebelumnya yang mencapai 4,9 persen.

Lebih lanjut, Singapura bahkan mencatatkan pertumbuhan terendah sejak 2009, yakni hanya naik 0,7 persen pada tahun lalu. Angka tersebut terjun bebas dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi pada 2018, yang sebesar 3,1 persen. 

Hal yang sama juga dialami Thailand yang tumbuh sebesar 2,4persen pada kuartal III/2019. Rendahnya kinerja perekonomian membuat pemerintah Negeri Gajah Putih memotong perkiraan pertumbuhan ekonomi menjadi 2,6 persen sepanjang 2019, dari perkiraan sebelumnya sekitar 2,7-3,2 persen. 

"Pertumbuhan terbesar terjadi di Filipina sebesar 5,9 persen untuk keseluruhan tahun lalu. Namun, pencapaian itu di bawah target yang ditetapkan pemerintahnya, sekitar 6-6,5 persen," imbuhnya.

Bank Indonesia (BI) memperkirakan ke depan perekonomian akan ditopang oleh peningkatan ekspor dan konsumsi rumah tangga, diikuti dengan tumbuhnya investasi setelah pemerintah membangun sejumlah infrastruktur. Penyokong lainnya adalah segera diterbitkannya Omnibus Law Cipta Lapangan Kerja.

Pemerintah menetapkan perkiraan pertumbuhan ekonomi sebesar 5,3 persen dalam APBN 2020.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Pertumbuhan Ekonomi, Gonjang Ganjing Rupiah

Editor : Annisa Margrit
KOMENTAR


Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top