Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Virus Corona Mewabah, Gagal Bayar Ancam Korporasi China

Wabah virus corona di China, yang menjadi krisis kesehatan terbesar sejak wabah SARS 2003 silam, telah memperburuk prospek gagal bayar di pasar obligasi di negara tersebut.
Aprianto Cahyo Nugroho
Aprianto Cahyo Nugroho - Bisnis.com 05 Februari 2020  |  10:57 WIB
Karyawan mencari informasi tentang obligasi di Jakarta, Rabu (17/7/2019). - Bisnis/Abdullah Azzam
Karyawan mencari informasi tentang obligasi di Jakarta, Rabu (17/7/2019). - Bisnis/Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA – Wabah virus corona di China, yang menjadi krisis kesehatan terbesar sejak wabah SARS 2003 silam, telah memperburuk prospek gagal bayar di pasar obligasi di negara tersebut.

Dengan jutaan warga bepergian, ditambah dengan tutupnya banyak perusahaan, pabrik, dan gerai ritel selama beberapa pekan, tekanan pada arus kas menambah lapisan tekanan yang tak terduga pada debitur di China. Pelaku pasar sudah mengantisipasi bahwa risiko gagal bayar pada 2020 akan setara dengan 2019 yang mencatat rekor tertinggi tahunan kedua berturut-turut.

Perusahaan industri dengan kapasitas berlebih dan perusahaan dengan leverage berlebih dengan ambisi besar adalah di antara mereka yang mengukir nama mereka dalam sejarah gagal bayar terbar di China. Saat ini, sejumlah perusahaan dapat bergabung dengan mereka karena semua orang mulai dari pengembang properti hingga operator hotel menderita tekanan terhadap bisnis mereka.

"Bahkan dengan kebijakan likuiditas yang diumumkan oleh pemerintah China, hanya sebagian kecil yang diperkirakan mengalir ke perusahaan swasta dengan risiko krekdit yang besar tersebut," kata Wu Qiong, direktur eksekutif di BOC International Holdings Ltd, seperti dikutip Bloomberg, Rabu (5/2/2020).

"Biaya bunga meningkat dan pembiayaan kembali akan semakin sulit," katanya.

Ada lonjakan premi yang diminta investor atas kepemilikan obligasi korporasi sejak China mulai meningkatkan upayanya untuk membendung penyebaran virus corona pada pertengahan Januari. Untuk sekuritas domestik dengan yield tinggi dan investment grade, spread utang pemerintah telah naik ke level tertinggi sejak November.

Reaksi pasar saham lebih dramatis dengan tersapunya kapitalisasi pasar bursa China hingga US$720 miliar pada perdagagan Senin (3/2), hari pertama setelah libur Tahun Baru Imlek. Aksi jual mereda pada hari Selasa.

"Pasar berfokus pada dampak sentimen pasar yang lebih luas, dan melakukan strategi bottom fishing ketika sentimen makro dan makro dunia nyata mempengaruhi fundamental penerbit obligasi dengan imbal hasil tinggi," kata Owen Gallimore, kepala analis di Australia & New Zealand Banking Group Ltd.

"Saya memperkirakan ada peningkatan default,” lanjutnya.

Gagal bayar obligasi dapat menyebar secara geografis. Dalam beberapa bulan terakhir, provinsi Shandong timur telah menjadi fokus karena konsentrasi tinggi peminjam sektor swasta yang telah menjamin utang satu sama lain untuk membantu mengamankan pembiayaan.

Hal tersebut Itu akhirnya menyebabkan masalah berantai jika salah satu perusahaan mengalami masalah. Provinsi Liaoning Timur Laut juga mengalami hal yang sama karena banyaknya konsentrasi konsentrasi industri tua di sana.

Sekarang, keduanya beresiko bergabung dengan Hubei, di mana ibukota provinsinya, Wuhan, menjadi pusat penyebaran coronavirus.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

virus corona
Editor : Hafiyyan
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top