Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Corona Diproyeksi Pukul Pertumbuhan Global dan China

Pasar keuangan dunia dan Indonesia masih dipayungi isu seputar virus korona. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengumumkan epidemi virus corona sebagai darurat global.
Ipak Ayu H Nurcaya
Ipak Ayu H Nurcaya - Bisnis.com 01 Februari 2020  |  10:49 WIB
Polisi berjaga di pos pemeriksaan di Jembatan Sungai Jiujiang Yangtze yang melintasi dari provinsi Hubei ke Jiujiang di Provinsi Jiangxi, China, Jumat (31/1/2020). Reuters - Thomas Peter
Polisi berjaga di pos pemeriksaan di Jembatan Sungai Jiujiang Yangtze yang melintasi dari provinsi Hubei ke Jiujiang di Provinsi Jiangxi, China, Jumat (31/1/2020). Reuters - Thomas Peter

Bisnis.com, JAKARTA — Pasar keuangan dunia dan Indonesia masih dipayungi isu seputar virus korona (2019-nCoV). Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengumumkan epidemi virus corona sebagai darurat global.

Wabah virus corona sudah mengakibatkan 200 orang lebih meninggal dunia dan menginfeksi hampir 10.000 orang. Kecepatan penyebaran virus menjadi perhatian.

Direktur PT Anugerah Mega Investama Hans Kwee menilai pasar dunia sempat pulih di tengah pekan setelah WHO mengumumkan darurat kesehatan global akibat virus korona. WHO tidak merekomendasikan pembatasan perjalanan ke China dan menyampaikan China memiliki situasi yang terkendali.

Hal ini menimbulkan optimisme bahwa perekonomian China dan global tidak akan terlalu terganggu akibat virus Korona.

Di belahan dunia lain langkah penanganan sudah dilakukan di Amerika Serikat (AS) di mana Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) Amerika Serikat telah memerintahkan karantina semua orang yang dipulangkan dari China ke sebuah pangkalan udara di california.

Menurutnya pelemahan bursa Wall Street sedikit tertahan juga karena Direktur CDC Robert Redfield menyatakan dampak risiko virus corona terhadap AS tergolong rendah.

"Saya perkirakan dampak virus corona akan lebih besar dibanding wabah SARS sebelumnya yang menewaskan 800 orang di 2002 sampai 2003. Waktu itu penanggulangan wabah SARS membutuhkan dana kurang lebih US$33 miliar. Situasi saat ini berbeda karena China punya perekonomian yang sangat besar, maka kemungkinan butuh dana yang lebih besar dan akan mengganggu ekonomi dunia," katanya, Sabtu (1/2/2020).

Hans menambahkan virus corona akan menjadi berita utama yang diperkirakan akan memukul pertumbuhan ekonomi Global dan China.

Namun, dia berharap ada rebound IHSG akibat IHSG berada di support 5.939 meski melihat tekanan Indeks global akibat wabah virus korona yang menyebar dengan cepat IHSG sangat mungkin turun kembali pada pekan ini dengan support di level 5.900 sampai 5767 dan resistance di level 6.000 sampai 6.152.

"Pelaku pasar harus tetap tenang dan memanfaatkan momentum ini untuk BOW ketiak terjadi koreksi," ujarnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

kabar global
Editor : M. Taufikul Basari
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top