Tingkat Permintaan SBN Ritel Diprediksi Tetap Tinggi

Permintaan terhadap SBN Ritel sepanjang 2020 diproyeksikan akan tetap solid. Hal tersebut didukung oleh terus turunnya bunga deposito yang membuat kehadiran instrumen alternatif semakin dicari.
Lorenzo Anugrah Mahardhika
Lorenzo Anugrah Mahardhika - Bisnis.com 29 Januari 2020  |  22:30 WIB
Tingkat Permintaan SBN Ritel Diprediksi Tetap Tinggi
Karyawan melintas didekat papan elektronik yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta. Bisnis - Arief Hermawan P

Bisnis.com, JAKARTA – Tingkat permintaan investor terhadap Surat Berharga Negara (SBN) Ritel diperkirakan akan tetap tinggi pada 2020.

Head of Investment Avrist Asset Management Farash Farich mengatakan permintaan terhadap SBN Ritel sepanjang 2020 diproyeksikan akan tetap solid. Hal tersebut didukung oleh terus turunnya bunga deposito yang membuat kehadiran instrumen alternatif semakin dicari.

“Investor ritel memerlukan altenatif (investasi) dengan imbal hasil yang kompetitif. Kehadiran SBN Ritel dapat memenuhi permintaan ini,” katanya saat dihubungi Bisnis.com, Selasa (29/1/2020).

Dia menuturkan, pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga berpotensi meningkatkan permintaan terhadap SBN Ritel. Pada umumnya, SBN Ritel dicari investor dengan karakteristik berhati-hati dan menghindari risiko yang tinggi.

Selain itu, instrumen investasi jenis ini dicari karena imbal hasil (yield) yang lebih pasti dan dapat ditarik untuk kebutuhan jangka menengah. Berbeda dengan saham yang lebih diperuntukkan bagi investor jangka panjang yang dapat mentoleransi fluktuasi nilai dalam jangka pendek.

“Bisa jadi ada switching (ke SBN Ritel) meskipun segmen investor pada pasar saham dan SBN Ritel agak berbeda,” lanjutnya.

Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan Luky Alfirman menyampaikan salah satu faktor utama tingginya minat investor adalah imbal hasil yang cukup atraktif.

Jenis SBR, katanya menggunakan prinsip floating with floor. Artinya, jumlah minimal imbal hasil yang didapatkan tidak mengikuti penurunan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI).

Selain itu, investasi jenis ini juga terbilang lebih aman bila dibandingkan dengan instrumen lain. Pasalnya, penerbitan SBN Ritel dijamin oleh pemerintah melalui Undang-Undang.

"Risiko gagal bayar (default) juga lebih rendah. Selama penerbitan ini kami juga belum pernah mengalami gagal bayar," katanya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
investasi, sbn

Editor : Hafiyyan
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top