Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Permintaan Terancam, Harga Minyak Jatuh Lagi

Harga minyak lagi-lagi turun tajam, tertekan kekhawatiran mengenai dampak wabah virus corona (coronavirus) baru di China terhadap permintaan energi.
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 24 Januari 2020  |  07:29 WIB
Sebuah pompa minyak terlihat saat matahari terbenam di luar Scheibenhard, dekat Strasbourg, Prancis, 6 Oktober 2017. - REUTERS/Christian Hartmann
Sebuah pompa minyak terlihat saat matahari terbenam di luar Scheibenhard, dekat Strasbourg, Prancis, 6 Oktober 2017. - REUTERS/Christian Hartmann

Bisnis.com, JAKARTA – Harga minyak lagi-lagi turun tajam, tertekan kekhawatiran mengenai dampak wabah virus corona (coronavirus) baru di China terhadap permintaan energi.

Namun, kemerosotan harga pada akhir perdagangan Kamis (23/1/2020) sedikit dibatasi oleh penurunan tak terduga dalam persediaan minyak mentah AS dan langkah Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk tidak menyatakan virus tersebut sebagai darurat kesehatan global.

Berdasarkan data Bloomberg, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak Maret 2020 merosot US$1,15 dan berakhir di level US$55,59 per barel di New York Mercantile Exchange.

Level penutupan itu adalah yang terendah sejak 29 November 2019. WTI sempat anjlok hingga 3,5 persen pada sesi perdagangan Kamis.

Adapun harga minyak Brent untuk kontrak Maret 2020 berakhir melemah US$1,17 di level US$62,04 per barel di ICE Futures Europe Exchange.

Energy Information Administration (EIA) melaporkan penurunan sebesar 405.000 barel dalam stok minyak mentah pekan lalu. Laporan ini mengejutkan mengingat American Petroleum Institute (API) sebelumnya melaporkan lonjakan persediaan minyak mentah domestik.

Laporan EIA juga menunjukkan peningkatan stok bensin sebesar 1,75 juta barel, terkecil sejak September. Di sisi lain, persediaan minyak distilat turun 1,19 juta barel.

“Data EIA konstruktif dan menguntungkan, terutama karena penurunan stok minyak mentah dilaporkan ketika pasar memperkirakan kenaikan,” tutur Brian Kessens, manajer portofolio di Tortoise.

Sementara itu, WHO berpendapat masih terlalu dini untuk menyatakan darurat kesehatan global atas virus ini. Komite ahli yang dihimpun oleh WHO memilih untuk terus memantau wabah itu, yang telah merenggut belasan nyawa dan menginfeksi ratusan orang.

“Pasar minyak mentah sebagian merespons keputusan itu,” ujar Rebecca Babin, pedagang energi senior di CIBC Private Wealth Management, seperti dilansir Bloomberg.

“Terlepas dari apa yang dikatakan WHO, fakta bahwa kita mungkin melihat permintaan dirugikan adalah apa yang benar-benar menjadi fokus pasar,” tambahnya.

Harga minyak telah tertekan kekhawatiran dampak virus tersebut terhadap perjalanan, terutama menjelang liburan Tahun Baru Imlek, migrasi manusia terbesar di dunia.

Goldman Sachs Group Inc. memperkirakan virus itu dapat mengurangi permintaan global sebesar 260.000 barel per hari tahun ini, dengan bahan bakar pesawat berkontribusi sekitar dua pertiga dari penurunan.

“Begitu ada bukti bahwa wabah itu terkendali dan oleh karenanya gangguan ekonomi akan segera berakhir, sentimen pada minyak akan meningkat sekaligus mengangkat harga kembali,” ungkap Pavel Molchanov, analis riset energi di Raymond James & Associates Inc.

Pergerakan minyak mentah WTI kontrak Maret 2020

Tanggal

Harga (US$/barel)

Perubahan

23/1/2020

55,59

-1,15 poin

20/1/2020

56,74

-1,64 poin

17/1/2020

58,38

-0,20 poin

Pergerakan minyak mentah Brent kontrak Maret 2020

Tanggal

Harga (US$/barel)

Perubahan

23/1/2020

62,04

-1,17 poin

22/1/2020

63,21

-1,38 poin

21/1/2020

64,59

-0,61 poin

Sumber: Bloomberg

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Harga Minyak virus corona
Editor : M. Taufikul Basari
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

Foto

BisnisRegional

To top