Penguatan di Pasar Obligasi Diproyeksi Kian Kokoh, Ini Katalisnya

Pada pekan ketiga Januari 2020 pasar obligasi bakal melanjutkan penguatan. Apa katalisnya?
Duwi Setiya Ariyanti
Duwi Setiya Ariyanti - Bisnis.com 14 Januari 2020  |  09:15 WIB
Penguatan di Pasar Obligasi Diproyeksi Kian Kokoh, Ini Katalisnya
Karyawan mencari informasi tentang obligasi di Jakarta, Rabu (17/7/2019). - Bisnis/Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA - Penguatan di pasar obligasi pada pekan ketiga Januari 2020 diperkirakan bakal semakin kokoh terdorong oleh kesepakatan dagang fase pertama antara China-Amerika Serikat. 

PT Penilai Harga Efek Indonesia dalam keterangan resminya, Selasa (14/1/2020) menyebut pada pekan ketiga Januari 2020 pasar obligasi bakal melanjutkan penguatan. Adapun, penguatan tersebut sebagai imbas perkembangan negosiasi terkait dengan perang dagang China-AS. 

Seperti diketahui, setelah konflik 19 bulan, Rabu (15/1/2020) waktu setempat akan menjadi momentum perbaikan karena kedua negara bakal meneken kesepakatan fase pertama di Gedung Putih, Washington.   

“Pada pekan ketiga Januari ini, pasar obligasi domestik berpotensi melanjutkan penguatan. Faktor positif pendorong kinerja pasar diperkirakan lebih berasal dari perkembangan hubungan dagang AS-China,” ujar pernyataan tersebut. 

Aktivitas perdagangan surat utang pun cukup ramai yang berimplikasi pada penguatan harga dan penurunan imbal hasil. Kurva imbal hasil PT Penilai Harga Efek Indonesia (PHEI) mencatat pergerakan bullish pada instrumen surat utang Pemerintah. 

Adapun, penurunan rata-rata yield untuk kelompok instrumen tenor pendek yakni kurang dari 5 tahun paling signifikan yakni sebesar 25,65 basis poin secara mingguan. 

Sementara itu, kurva imbal hasil pada instrumen obligasi korporasi menunjukkan tren yang sama. Rata-rata penurunan yield instrumen surat utang korporasi turun signifikan pada tenor pendek yakni kurang dari 5 tahun yakni sebesar 25,86 basis poin secara mingguan. 

Kegiatan transaksi dari sisi volume rata-rata harian naik sebesar 132,68% secara mingguan menjadi Rp22,14 triliun dengan rata-rata frekuensi yang juga naik 101,67% menjadi 1.014 transaksi perhari. Transaksi tertinggi dicatatkan oleh tiga seri surat utang negara (SUN) yakni FR0082 dengan nilai Rp23,69 triliun; seri FR0080 dengan Rp10,1 triliun dan seri FR0081 dengan Rp10 triliun. 

Ramainya transaksi pada pekan kedua 2020 terdorong oleh pelaksanaan lelang surat berharga negara (SBN) pembuka tahun. Pada lelang perdana SUN penawaran masuk mencapai 5,44 kali oversubscribed karena penawaran masuk menyentuh Rp81,54 triliun padahal Pemerintah menetapkan target Rp15 triliun.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Obligasi, surat utang negara

Editor : Ana Noviani
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top