Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Mengintip Kinerja 10 Saham yang Dikoleksi Jiwasraya

Berdasarkan data Bloomberg yang dihimpun Bisnis, 8 dari 10 saham yang dikoleksi Jiwasraya mencetak kinerja negatif pada 2019 dan 2 saham lainnya stagnan. Apakah saham-saham itu merupakan saham gorengan?
Ana Noviani
Ana Noviani - Bisnis.com 03 Januari 2020  |  18:01 WIB
Karyawan melintas di dekat layar penunjuk pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di gedung Bursa Efek Indonesia di Jakarta, Rabu (12/6/2019). - Bisnis/Felix Jody Kinarwan
Karyawan melintas di dekat layar penunjuk pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di gedung Bursa Efek Indonesia di Jakarta, Rabu (12/6/2019). - Bisnis/Felix Jody Kinarwan

Bisnis.com, JAKARTA - Topik mengenai 'saham gorengan' di pasar modal sedang mencuat setelah Presiden Joko Widodo menyerukan otoritas bursa bersih-bersih pada 2020 untuk mengembalikan kredibilitas dan kepercayaan investor.

Hal itu disampaikan Jokowi dalam pembukaan perdagangan 2020 di Gedung Bursa Efek Indonesia, Kamis (2/1/2020).

"Jangan sampai ada saham harga Rp100 per saham digoreng terus menjadi Rp1.000 terus naik lagi sampai Rp4.000. Ini menyangkut kepercayaan, saham gorengan tidak boleh ada lagi," tegas Jokowi saat pidato pembukaan di Bursa Efek Indonesia pada Kamis (2/1/2020).

Pernyataan itu meluncur dari Kepala Negara setelah baru-baru ini terungkap bahwa salah satu penyebab bobroknya keuangan PT Asuransi Jiwasraya (Perseroan) ialah kesalahan pengelolan investasi, termasuk menanam modal di saham-saham dengan kualitas buruk.

Komposisi portofolio investasi keuangan Jiwasraya./Materi RDP Komisi 6 DPR

Arya Sinulingga, Staf Khusus Menteri BUMN, mengatakan Manajemen Jiwasraya sudah membeberkan pihaknya melakukan investasi ke dalam sejumlah saham yang berkualitas tidak bagus, baik langsung maupun melalui reksa dana.

"[Manajemen Jiwasraya] mengaku kalau beli 'saham gorengan'. Mungkin ada bluechip-nya tapi tidak banyak," tuturnya baru-baru ini.

Seperti diberitakan Bisnis, Direktur Utama Jiwasraya Hexana Tri Sasongko menyebutkan setidaknya terdapat 160 portofolio investasi saham dan reksa dana saham yang dimiliki Jiwasraya.

Beberapa saham yang masih dimiliki Jiwasraya di antaranya di PT Semen Baturaja Tbk. (SMBR), PT SMR Utama Tbk. (SMRU), PT PP Properti Tbk. (PPRO), PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten Tbk. (BJBR), dan PT Astrindo Nusantara Infrastruktur Tbk. (BIPI).

Selain itu, penempatan tidak langsung di antaranya ada di PT Prima Cakrawala Abadi Tbk. (PCAR), PT Eureka Prima Jakarta Tbk. (LCGP), PT Graha Andrasentra Propertindo Tbk. (JGLE), PT Pool Advista Finance Tbk. (POLA), dan PT Trada Alam Minera Tbk. (TRAM).

Mari kita intip kinerja saham-saham tersebut dalam 3 tahun terakhir!

Berdasarkan data Bloomberg yang dihimpun Bisnis, 8 dari 10 saham itu mencetak kinerja negatif pada 2019 dan 2 saham lainnya stagnan. Koreksi paling dalam dibukukan oleh saham SMRU -92,31%, POLA -88,09%, dan PCAR -79,44%.

Kinerja Saham-Saham yang Dikoleksi Jiwasraya
EmitenKinerja Saham 2017Kinerja Saham 2018Kinerja Saham 2019
PT Semen Baturaja Tbk. (SMBR)+36.46%-53.89%-74.78%
PT SMR Utama Tbk. (SMRU)+41.76%+34.85%-92.31%
PT PP Properti Tbk. (PPRO)-44.13%-37.58%-41.28%
PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten Tbk. (BJBR)-25.94%-11.12%-39.32%
PT Astrindo Nusantara Infrastruktur Tbk. (BIPI).+0.00%-29.58%0%
PT Prima Cakrawala Abadi Tbk. (PCAR)+69.33%+2006.30%-79.44%
PT Eureka Prima Jakarta Tbk. (LCGP)-40.74%+62.50%-12.31%
PT Graha Andrasentra Propertindo Tbk. (JGLE)-66.41%-62.41%0%
PT Pool Advista Finance Tbk. (POLA)-+1529.63%-88.09%
PT Trada Alam Minera Tbk. (TRAM)+44.91%-14.14%-70.59%

Sumber: Bloomberg.

Saham PCAR dan POLA amblas setelah menguat ribuan persen pada 2018. Tercatat, saham emiten pengolahan rajungan itu meroket 2.006,3% pada 2018 dan menjadi saham dengan lonjakan harga tertinggi kedua setelah PT Transcoal Pacific Tbk. (TCPI) yang terbang 6.367,39%.

Kinerja saham POLA pada 2018 lebih ajaib lagi. Saham perusahaan yang mayoritas sahamnya digenggam oleh PT Pool Advista Indonesia Tbk. itu melompat dari harga IPO Rp135 pada 16 November 2018 ke level Rp2.200 pada akhir Desember 2018. Artinya, POLA tancap gas 1.529,63% hanya dalam periode 30 hari bursa.

Fantastisnya lonjakan saham PCAR dan POLA tak sejalan dengan kinerja fundamental perseroan. Berdasarkan laporan keuangan 2018, pertumbuhan pendapatan PCAR dan POLA terbilang biasa-biasa saja.

PCAR mengantongi kenaikan pendapatan 30,33% year-on-year menjadi Rp176,5 miliar dan pendapatan POLA tumbuh 23,86% yoy menjadi Rp54,66 miliar pada akhir 2018.

Begitu pula dengan kinerja labanya. Laba POLA tercatat naik 40,57% yoy menjadi Rp29,62 miliar. Di sisi lain, PCAR justru berbalik rugi Rp8,38 miliar pada 2018 setelah untung tipis Rp370,46 miliar per 2017.

Lonjakan harga fantasis di antara saham-saham yang dikoleksi Jiwasraya tidak terjadi pada 2017. Kinerja 10 saham itu cenderung variatif. Namun, kenaikan dan penurunan harganya berada di kisaran puluhan persen.

Data tersebut juga mengungkap bahwa tidak ada satu pun saham yang mencetak return positif berturut-turut dalam 3 tahun terakhir. Justru ada dua saham yang konsisten mencetak capital loss dalam periode 2017-2019, yakni PPRO dan JGLE.

Bercermin dari data-data tersebut, sepertinya sudah dapat disimpulkan apa salah satu penyebab tekornya kondisi keuangan perusahaan asuransi pelat merah itu...

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

saham jiwasraya
Editor : Ana Noviani
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top