Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Emas Berhasil Kembali ke Level US$1.500

Analis PT Maxco Futures Suluh Adil Wicaksono mengatakan bahwa penguatan emas kali ini menjadi sebuah anomali di pasar. Pasalnya, emas bergerak menguat bersamaan dengan aset berisiko seperti saham yang juga tengah mengalami penguatan.
Emas batangan di brankas bank terlihat dalam gambar ilustrasi yang diambil di Zurich, 20 November 2014./REUTERS-Arnd Wiegmann
Emas batangan di brankas bank terlihat dalam gambar ilustrasi yang diambil di Zurich, 20 November 2014./REUTERS-Arnd Wiegmann

Bisnis.com, JAKARTA – Harga emas berhasil kembali bergerak di level US$1.500 per troy ounce, meskipun optimisme hubungan dagang antara AS dan China telah mewarnai pasar yang seharusnya menjadi sentimen negatif bagi aset investasi aman, seperti emas.

Analis PT Maxco Futures Suluh Adil Wicaksono mengatakan bahwa penguatan emas kali ini menjadi sebuah anomali di pasar. Pasalnya, emas bergerak menguat bersamaan dengan aset berisiko seperti saham yang juga tengah mengalami penguatan. Umumnya, kedua aset tersebut bergerak saling bertolak belakang.

“Emas bertahan di atas level US$1.500 per troy ounce di sisa akhir tahun ini, meskipun pernyataan AS terkait kesepakatan perdagangan tahap pertama dengan China siap segera ditandatangani. Sentimen itu tidak membuat emas terkoreksi,” ujar Suluh saat dihubungi Bisnis, Kamis (26/12/2019).

Padahal, Juru bicara Kementerian Luar Negeri China Geng Shuang juga membenarkan AS dan China akan segara mengadakan pertemuan resmi untuk menandatangani kesepakatan perdagangan tahap pertama.

Berdasarkan data Bloomberg, pada perdagangan Kamis (26/12/2019) hingga pukul 14.53 WIB, harga emas di pasar spot bergerak menguat 0,24% di level US$1.503,51 per troy ounce. Sementara itu, harga emas untuk kontrak Februari 2020 di bursa Comex juga bergerak menguat 0,25% menjadi US$1.508,5 per troy ounce.

Suluh mengatakan bahwa jika emas berhasil mempertahankan posisi tersebut, emas berpotensi untuk menguji level resisten kuat di US$1.514 per troy ounce, sedangkan level support emas berada di level psikologis US$1.500 per troy ounce.

Sebagai informasi, emas yang bergerak mantap pada awal tahun dan sempat menyentuh level tertinggi sejak enam tahun terakhir telah terkoreksi pada kuartal terakhir tahun ini karena hubungan dagang antara AS dan China yang telah mereda.

Sejak awal Oktober, emas meredam penguatannya hanya naik 1,6% secara kuartalan dan kembali diperdagangkan di sekitar level US$1.400 per troy ounce. Kendati demikian, sepanjang tahun berjalan 2019, emas masih mencatatkan penguatan sebesar 17,2%, tetap menjadi salah satu komoditas dengan penguatan terbaik untuk tahun ini.

Kepala Strategi Investasi State Street Global Advisors Boston Michael Arone mengatakan bahwa emas yang kembali ke level US$1.500 per troy ounce adalah berita besar untuk pasar di akhir tahun.

“Bahkan pada perdagangan kali ini ketika volume transaksi lebih ringan karena libur natal dan tahun baru, emas juga tetap bergerak di level US$1.500 per troy ounce,” ujar Michale seperti dikutip dari Bloomberg, Kamis (26/12/2019).

Dia mengatakan bahwa investor mungkin melakukan lindung nilai terhadap kemungkinan kenaikan inflasi pada tahun depan.

Namun, sesungguhnya dia meragukan inflasi akan cukup kuat untuk mempengaruhi pasar secara negatif, tetapi itu bisa memberikan sentakan kepada investor yang dibuai oleh suku bunga di bawah norma historis sehingga investor melihat membutuhkan untuk melakukan aksi lindung nilai.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Finna U. Ulfah
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper