Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Analis Khawatir Perombakan BUMN Meningkatkan Noise

Analis menilai hiruk pikuk yang terjadi di Kementerian BUMN dapat membuat investor bingung. Walaupun untuk tujuan yang positif, beberapa kebijakan yang diambil tampak menjadi noise di pasar.
Dwi Nicken Tari
Dwi Nicken Tari - Bisnis.com 14 Desember 2019  |  06:00 WIB
Plh Direksi PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk. menyatukan tangan setelah menyampaikan rencana kerja 45 hari ke depan di Kementerian BUMN, Kamis (12/12/2019). - Bisnis/Annisa S. Rini
Plh Direksi PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk. menyatukan tangan setelah menyampaikan rencana kerja 45 hari ke depan di Kementerian BUMN, Kamis (12/12/2019). - Bisnis/Annisa S. Rini

Bisnis.com, JAKARTA - Analis menilai hiruk pikuk yang terjadi di Kementerian BUMN dapat membuat investor bingung. Walaupun untuk tujuan yang positif, beberapa kebijakan yang diambil tampak menjadi noise di pasar.

Kepala Riset Koneksi Kapital Alfred Nainggolan menilai beberapa perombakan yang dilakukan Kementerian BUMN sejauh ini memang positif karena tujuannya untuk menjunjung profesionalisme.

Namun, hal itu dinilai belum cukup kuat untuk menjadi katalis positif yang dapat mendorong kinerja saham emiten pelat merah.

"Kalau itu diharapkan menjadi sentimen positif [untuk harga saham], sepertinya belum cukup kuat untuk menjadi katalis karena di satu sisi ada gebrakan positif tapi di sisi lain ternyata gebrakan ini cukup noise," kata Alfred kepada Bisnis, Jumat (13/12/2019).

Misalnya, lanjut Alfred, kasus di PT Garuda Indonesia Tbk. seharusnya menjadi sentimen positif di pasar karena ke depannya tentu kesalahan yang sama akan dihindari.

Kenyataannya, saham berkode GIAA terswbut justru merosot 4 hari berturut-turut sejak diberitakan bahwa eks Dirut Garuda Indonesia Ari Ashkara terlibat kasus penyelundupan komponen kendaraan mewah.

"Tapi pasar tidak melihat itu [sebagai sentimen positif], lebih ke noise yang membuat ketidakpastian semakin meningkat," imbuh Alfred.

Lebih lanjut, Alfres melihat beberapa perombakan kali ini justru malah terlihat seperti "menyalahkan" kementerian BUMN periode sebelumnya. Padahal, kedua pemimpin kementerian BUMN ini berasal dari pemerintahan yang sama-sama dikepalai oleh Presiden Joko Widodo.

Alfred juga menyinggung wacana holding BUMN yang bakal dihentikan kendati sudah berjalan. Hal ini pun disebut membuat investor semakin khawatir terhadap masa depan BUMN.

"Jadi tidak tahu lagi ini, apakah terbobosannya seolah-olah pigin menyalahkan Kementerian BUMN sebelumnya itu tidak bagus," tutur Alfred.

Dirinya pesimistis, apabila tahun depan keriuhan ini berlanjut maka investor bisa saja pindah ke saham-saham non-BUMN. Apalagi, selama 5 tahun terakhir kinerja saham non-BUMN jauh lebih baik ketimbang emiten pelat merah walau memilili fundamental baik.

Adapun Alfred masih merekomendasikan saham BUMN dari sektor perbankan seperti BMRI dan BBNI untuk dicermati.

Sementara dari keluarga Karya, Alfred merekomendasikan WTON karena dinilai berisiko paling kecil dibanding saham lainnya.

"Holding karya kami lihat cukup berat tahun depan karena sampai saat ini belum ada wacana penambahan modal. Kalau tidak ada penambahan modal kemungkinan tahun depan masih menggunakan utang, itu menekan sekali ke neraca keuangannya," jelas Alfred.

Managing Director and Head of Equity Capital Market PT Samuel International Harry Su juga menilai perombakan di Kementerian BUMN ini secara sentimen memang positif.

"Tapi untuk kinerja, kita lihat dulu," katanya.

Menurut Harry, kinerja saham BUMN ke depannya juga akan dipengaruhi oleh sisi fundamental masing-masing perusahaan. Sementara perombakan di sisi manajerial bakal menentukan minat investor untuk mengoleksi saham-saham emiten pelat merah.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bumn erick thohir
Editor : Sutarno
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top