Dana Kelolaan Reksa Dana Turun 1,59 Persen pada November

Dana kelolaan atau asset under management (AUM) industri reksa dana merosot di sepanjang November mengikuti pelemahan IHSG dan pembubaran sejumlah produk reksa dana.
Dwi Nicken Tari
Dwi Nicken Tari - Bisnis.com 04 Desember 2019  |  10:17 WIB
Dana Kelolaan Reksa Dana Turun 1,59 Persen pada November
Pengunjung mengamati papan elektronik yang menunjukkan pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG), di gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Kamis (3/8). - JIBI/Dwi Prasetya

Bisnis.com, JAKARTA — Dana kelolaan atau asset under management (AUM) industri reksa dana merosot di sepanjang November mengikuti pelemahan IHSG dan pembubaran sejumlah produk reksa dana.

Namun, tota AUM reksa dana diperkirakan menguat lagi pada akhir tahun ini seiring dengan optimisme IHSG yang selalu rebound pada Desember.

Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan per 29 November 2019, total dana kelolaan reksa dana berkurang Rp8,79 triliun atau turun 1,59% menjadi Rp544,41 triliun dibandingkan bulan sebelumnya.

Penurunan itu diikuti meningkatnya redemption sebesar Rp65,99 triliun. Namun, aksi pembelian atau subscription yang lebih tinggi Rp69,47 triliun membuat net subs tetap terjadi senilai Rp3,47 triliun walau lebih rendah dari bulan sebelumnya senilai Rp8,26 triliun.

Head of Investment Research Infovesta Utama Wawan Hendrayana menilai produk reksa dana saham sepertinya turun signifikan setelah adanya pembubaran beberapa produk pada akhir bulan lalu. Tak hanya itu, melemahnya IHSG sebesar 3,48% selama November juga mempengaruhi valuasi saham milik portofolio para fund manager.

“Saya belum lihat per jenis, tetapi untuk reksa dana saham pasti turun signifikan karena pembubaran ditambah IHSG turun 3.5%,” kata Wawan kepada Bisnis, Senin (3/12/2019).

Adapun, Otoritas Jasa Keuangan telah membubarkan 6 produk milik PT Minna Padi Aset Manajemen yang menawarkan imbal hasil pasti (fixed return) pada 22 November 2019. Manajer investasi diminta untuk mengembalikan dana investasi produk tersebut paling lambar 7 hari bursa sejak likuidasi dilakukan.

Berdasarkan data Infovesta Utama per 31 Oktober 2019, keenam produk tersebut memiliki total dana kelolaan Rp5,75 triliun.

Sementara itu, Wawan memperkirakan subscription reksa dana telah banyak masuk ke reksa dana beraset dasar obligasi dan pasar uang melihat tren positif di pasar obligasi pada tahun ini. 

Selanjutnya aksi window dressing pada reksa dana saham, karena return rata-rata industri pada November telah turun 7%, diperkirakan bakal membaik pada bulan terakhir tahun ini.

Adapun Eastspring Investments Indonesia menjadi salah satu manajer investasi yang dana kelolaannya terpengaruh oleh menurunnya valuasi pasar saha,. CEO Eastspring Investments Indonesia Alan T. Darmawan menyampaikan bahwa dana kelolaan di manajer investasi anggota Prudential Plc. itu turun menjadi Rp89,69 triliun per 31 Oktober 2019.

“Tapi tidak menutup kemungkinan juga, biasanya akhir tahun kan banyak kontribusi dari investor kami. Kemungkinan bisa sama lagi [seperti tahun lalu],” ujarnya mengacu pada AUM pada 2018 senilai Rp90 triliun.

Dirinya menegaskan bahwa penurunan AUM tersebut bukan disebabkan oleh redemption tetapi lebih terpengaruh oleh kondisi valuasi saham yang turun.

Pasalnya, investor perseroan yang banyak berasal dari institusi disebut berinvetasi lebih untuk jangka panjang. Dengan demikian, penurunan yang terjadi di pasar tak akan terlalu mempengaruhi minat investasi.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
reksa dana

Editor : M. Taufikul Basari
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top