Sideways di Pasar Obligasi Berlanjut Akibat Perang Dagang

Kepala Riset Pendapatan Tetap BNI Sekuritas, Ariawan mengatakan pergerakan pasar obligasi yang cenderung sideways masih berlanjut akibat geliat investor global yang lesu.
Duwi Setiya Ariyanti
Duwi Setiya Ariyanti - Bisnis.com 02 Desember 2019  |  10:11 WIB
Sideways di Pasar Obligasi Berlanjut Akibat Perang Dagang
Karyawan mencari informasi tentang obligasi di Jakarta, Rabu (17/7/2019). - Bisnis/Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA – PT BNI Sekuritas memprediksikan pasar obligasi masih bergerak sideways atau mendatar akibat ketidakpastian global terkait dengan perang dagang China-AS.

Dikutip dari hasil risetnya, Senin (2/12/2019), Kepala Riset Pendapatan Tetap BNI Sekuritas, Ariawan mengatakan pergerakan pasar obligasi yang cenderung sideways masih berlanjut akibat geliat investor global yang lesu. Menurutnya, investor belum agresif masuk ke aset yang berisiko karena terbatasi ketidakpastian iklim investasi akibat perang dagang China-AS.

“Pelaku pasar global masih cenderung belum terlalu agresif untuk masuk pada aset – aset yang lebih berisiko, menunggu kesepakatan dagang antara AS – China di tengah masih tingginya ketidakpastian hubungan dagang kedua negara,” katanya.

Di sisi lain, dia menyebut data inflasi bulanan periode November bakal rendah. Konsensus Bloomberg memperkirakan inflasi November sebesar 0,20% secara bulanan dan 3,06% secara tahunan. Potensi kenaikan yield akibat lesunya masar akan terbatasi faktor pasokan surat berharga negara (SBN) karena Pemerintah menghentikan lelang surat utang negara (SUN) dan sukuk pada Desember.

“Potensi kenaikan yield juga akan cenderung terbatas seiring meredanya tekanan supply penerbitan SBN setelah Pemerintah membatalkan rencana lelang SBN di bulan Desember,” katanya.

Pergerakan pasar yang cenderung mendatar tercatat telah terjadi sejak perdagangan sebelumnya yakni ditunjukkan dengan pergerakan yield yang bervariasi. Perinciannya, yield surat utang negara (SUN) tenor 10 tahun naik 6 basis poin dan berada di level 7,09%. Lalu nilai tukar rupiah terhadap dolar AS melemah tipis ke 14.108.

Dari sisi transaksi, volume transaksi SBN secara outright tercatat sebesar Rp9,4 triliun pada Jumat pekan lalu atau lebih rendah dari volume transaksi harian yakni Rp13,8 triliun selama tahun berjalan. 

Atas proyeksi tersebut, dia merekomendasikan agar investor memilih strategi jangka pendek guna memanfaatkan momentum pergerakan yield yang mendatar. Beberapa seri SUN yang bisa dicermati yaitu FR0077, FR0081, FR0078, FR0082, FR0080, FR0079, dan FR0083.

“Di tengah potensi pergerakan yield yang masih cenderung sideways, maka strategi trading jangka pendek pada beberapa seri SUN,” katanya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Obligasi

Editor : M. Taufikul Basari
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top