IHSG Masih Tertekan di Awal Desember 2019, Ini Sebabnya

PT Valbury Sekuritas Indonesia menyatakan propek penyelesaian perang dagang AS dan China kian suram menyusul keputusan Negeri Paman Sam meresmikian UU pro-Demokrasi Hong Kong.
M. Taufikul Basari
M. Taufikul Basari - Bisnis.com 02 Desember 2019  |  08:38 WIB
IHSG Masih Tertekan di Awal Desember 2019, Ini Sebabnya
Karyawan melintas di dekat layar penunjuk pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di gedung Bursa Efek Indonesia di Jakarta, Rabu (12/6/2019). - Bisnis/Felix Jody Kinarwan

Bisnis.com, JAKARTA – Sejumlah sentimen akan membebani pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG) hari ini, Senin (2/12/2019).

Dalam ristenya, PT Valbury Sekuritas Indonesia menyatakan propek penyelesaian perang dagang AS dan China kian suram menyusul keputusan Negeri Paman Sam meresmikian UU pro-Demokrasi Hong Kong.

“Sedangkan dari dalam negeri yang menjadi katalis bagi pasar data inflasi November yang diperkirakn masih terkendali. Bauran sentimen ini membuat IHSG bergerak mixed, namun cenderung melemah pada perdagangan saham pekan ini,” tulis Valbury, Senin (2/12).

Secara tenikal , level support IHSG adalah 5.962/5.913/5.886, dengankan level resisten 6.039/6.065/6.115.

Data yang rilis dalam pekan ini dan menjadi salah satu perhatian pelaku pasar mengenai data inflasi. Bank Indonesia (BI) memprakirakan inflasi November rendah dan terkendali meski ada peluang naik tipis jelang liburan akhir tahun.

Peluang yang menyumbang kenaikan inflasi November 2019, salah satunya kenaikan harga tiket angkutan udara, seiring jelang libur akhir tahun.

Sementara itu, hingga Oktober 2019 penyaluran kredit perbankan mengalami peningkatan 6,53 persen secara year-on-year (YoY), atau tumbuh di bawah dari target yang dipatok OJK sebelumnya pada kisaran 9 persen -11 persen.

“Data tersebut mencerminkan bahwa pertumbuhan kredit semakin melambat dibandingkan September 2019 di level 8 persen dan Agustus 2019 di level 8,7 persen,” tulis Valbury.

Lambatnya pertumbuhan kredit ini disebabkan oleh turunnya penyaluran kredit di sektor pertambangan dan konstruksi yang nilainya mencapai Rp 5 triliun. Sektor yang turun dalam penyaluran kredit tambang dan konstruksi.

Di sisi lain, lanjut Valbury, BI memberi sinyal akan mempertahankan kebijakan moneternya yang akomodatif untuk menopang ekonomi menghadapi perlambatan global BI tetap melancarkan bauran kebijakannya pada 2020, yang telah membantu mendukung perekonomian tahun ini.

BI akan berkerjasama dengan pemerintah dan lembaga-lembaga lain agar efektif kebijakan yang dilakukan dalam merangsang pertumbuhan ekonomi.

Bank sentral memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia naik 5,1 persen – 5,5 persen pada 2020. Sementara itu, defisit transaksi berjalan pada 2020 diproyeksikan akan berada dalam kisaran 2,5 persen – 3 persen dari PDB, dengan surplus transaksi modal dan finansial tetap besar untuk mendukung stabilitas eksternal. Adapun nilai tukar rupiah pada 2020 diperkirakan bergerak stabil.

Rekomendasi saham Valbury:

Rekomendasi Valbury, 2 Desember 2019
TLKM: Trading BuyASII: Trading BuyLSIP : Trading Buy
Close 3930, TP 3970Close 6500, TP 6600Close 1370, TP 1400
Boleh buy di level 3860-3930Boleh buy di level  6400-6500Boleh buy di level  1330-1370
Resistance di 3970 & support di 3860Resistance di 6600 & support di 6400Resistance di 1400 & support di 1330
Waspadai jika tembus di 3860Waspadai jika tembus di 6400Waspadai jika tembus di 1330
Batasi resiko di 3530Batasi resiko di 6350Batasi resiko di 1310
Rekomendasi Valbury, 2 Desember 2019
AALI:  Trading BuySMRA:  Trading BuyCTRA:  Trading Buy
Close 12600, TP 12975Close 1020, TP 1040Close 1005, TP 1025
Boleh buy di level  12425-12600Boleh buy di level  985-1020Boleh buy di level  985-1005
Resistance di 12975 & support di 12425Resistance di 1040 & support di 985Resistance di 1025 & support di 985
Waspadai jika tembus di 12425Waspadai jika tembus di 985Waspadai jika tembus di 985
Batasi resiko di 12275Batasi resiko di 970Batasi resiko di 970

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
IHSG

Editor : M. Taufikul Basari
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top