Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Investor Wait and Hold, Bursa Asia Tertekan di Zona Merah

Anjloknya indeks saham di Hong Kong dan China menyeret bursa Asia tertekan di zona merah pada perdagangan hari ini, Jumat (29/11/2019).
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 29 November 2019  |  16:06 WIB
Bursa MSCI Asia - Reuters
Bursa MSCI Asia - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA – Anjloknya indeks saham di Hong Kong dan China menyeret bursa Asia tertekan di zona merah pada perdagangan hari ini, Jumat (29/11/2019).

Berdasarkan data Bloomberg, indeks MSCI Asia Pacific melemah 0,9 persen pada pukul 4.05 sore waktu Tokyo (pukul 14.05 siang WIB).

Rata-rata bursa saham di Asia melemah, di antaranya indeks Hang Seng Hong Kong (-2 persen), indeks Topix Jepang (-0,5 persen), indeks Kospi Korea Selatan (-1,6 persen), dan indeks Shanghai Composite (-0,6 persen).

Pada saat yang sama, indeks futures Euro Stoxx 50 turun 0,2 persen, dan futures S&P 500 AS terkoreksi 0,3 persen.

Investor terus menantikan progres mengenai kesepakatan perdagangan Amerika Serikat-China, sehari setelah pasar saham global tertekan oleh keputusan Presiden Donald Trump untuk menandatangani legislasi yang menunjukkan dukungan AS terhadap demonstran di Hong Kong.

Langkah tersebut menyulut ancaman retaliasi dari pemerintah China, yang mengendalikan kota tersebut, sekaligus memunculkan kekhawatiran seputar prospek tercapainya kesepakatan dagang ‘fase satu’ antara AS dan China.

Pada Kamis (28/11), pemerintah Tiongkok menegaskan kembali ancamannya untuk mengambil tindakan, meskipun tidak memberikan perincian tentang bagaimana atau kapan langkah itu akan dilakukan.

Investor kini menantikan saat penting berikutnya yakni 15 Desember, ketika pemerintah AS dijadwalkan mengenakan tarif baru terhadap impor China termasuk barang elektronik dan dekorasi Natal.

“Pasar berada pada semacam sikap ‘wait and hold’ dalam hal kesepakatan perdagangan fase satu itu,” ujar David Riley, kepala strategi investasi di BlueBay Asset Management, kepada Bloomberg TV.

“Jika ada sedikit kesepakatan, itu akan memungkinkan pasar dan aset berisiko untuk bergerak lebih tinggi bahkan jika tidak ada prospek nyata dari ‘fase dua’ atau negosiasi terperinci berikutnya,” jelas Riley.

Seiring dengan tekanan yang dialami aset berisiko, nilai tukar yuan Jepang bergerak stabil di posisi 109,51 per dolar AS dan harga emas di pasar spot naik 0,1 persen ke level US$1.458 per troy ounce.

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Bursa Asia perang dagang AS vs China
Editor : Sutarno
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top