Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Trump Dukung Demonstran Hong Kong, Begini Reaksi Pasar China

Pelaku pasar China relatif tidak terpengaruh oleh keputusan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menandatangani legislasi untuk mendukung para demonstran di Hong Kong.
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 28 November 2019  |  11:12 WIB
Pengunjuk rasa menguasai jembatan yang menjadi penghubung dengan kampus Chinese University di Hong Kong, China, Rabu (13/11/2019). - Reuters/Thomas Peter
Pengunjuk rasa menguasai jembatan yang menjadi penghubung dengan kampus Chinese University di Hong Kong, China, Rabu (13/11/2019). - Reuters/Thomas Peter

Bisnis.com, JAKARTA – Pelaku pasar China relatif tidak terpengaruh oleh keputusan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menandatangani legislasi untuk mendukung para demonstran di Hong Kong.

Meski bursa saham di Hong Kong, termasuk saham perusahaan China yang terdaftar di kota itu, tergelincir pada awal perdagangan hari ini, Kamis (28/11/2019), nilai tukar yuan China dilaporkan stabil di 7,0282 per dolar AS dan indeks Shanghai Composite berfluktuasi dalam kisaran yang sempit.

Sementara itu, volume perdagangan baik di China daratan maupun di Hong Kong mencapai sekitar 24 persen lebih rendah dari rata-rata volume dalam 30 hari.

Pihak Gedung Putih mengungkapkan bahwa Trump telah menandatangani rancangan undang-undang (RUU) terkait Hong Kong untuk menjadi UU pada Rabu (27/11/2019) waktu setempat.

Undang-undang tersebut akan memungkinkan tinjauan tahunan status perdagangan khusus Hong Kong di bawah hukum Amerika dan sanksi terhadap pejabat yang dianggap bertanggung jawab atas pelanggaran hak asasi manusia ataupun merongrong otonomi kota Hong Kong.

Meski penandatanganan legislasi itu dapat memperumit pembicaraan AS-China mengenai perjanjian perdagangan, aset-aset keuangan China telah terlebih dahulu bereaksi ketika Kongres AS meloloskan RUU tersebut.

Sementara itu, ada kekhawatiran mengenai rencana China untuk melakukan pembalasan. Meski menegaskan kembali ancamannya untuk mengambil tindakan, pemerintah China pada Kamis (28/11/2019) tidak memberikan perincian tentang bagaimana atau kapan langkah itu akan dilakukan.

Pemerintah China sebelumnya telah mendesak Trump untuk mencegah RUU tersebut menjadi UU, dengan memperingatkan AS untuk tidak meremehkan tekad China untuk mempertahankan "kedaulatan, keamanan dan kepentingan pembangunan".

"Trump harus menandatangani RUU tersebut mengingat dukungan yang luar biasa dari Kongres,” ujar Nader Naeimi dari AMP Capital Investors Ltd., dikutip dari Bloomberg.

“Ini hanya langkah simbolis dan tidak memiliki konsekuensi nyata bagi pasar kecuali tentu saja China melancarkan pergerakan militer ke Hong Kong, suatu kemungkinan yang sangat kecil,” tambahnya.

Dalam beberapa bulan terakhir, pasar keuangan China bergerak tanpa arah karena investor menantikan hasil pembicaraan perdagangan antara kedua negara.

Meski indeks saham bluechip CSI 300 mencatat kuartal pertama yang kuat, dengan melonjak 29 persen, pergerakannya sebagian besar cenderung sideways sejak saat itu.

Adapun nilai tukar yuan tampak terbatas meskipun diperdagangkan lebih kuat dari level 7 per dolar AS selama beberapa hari pada awal bulan ini.

Undang-undang baru itu ditandatangani oleh Trump tepat ketika Washington dan Beijing telah menunjukkan tanda-tanda progres menuju apa yang Gedung Putih sebut sebagai kesepakatan "fase satu" guna meringankan dampak perang dagang.

“Terlepas dari apa yang dikatakan kedua belah pihak, sepertinya tidak mudah untuk mencapai konsensus, jadi saat ini sepertinya dapat sulit untuk mencapai kesepakatan fase satu,” kata Stephen Chiu, analis di Bloomberg Intelligence.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

hong kong Donald Trump
Editor : Nancy Junita
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top