Harga Kopi Global Turun, Ini Pemicunya

Berdasarkan data Bloomberg, harga kopi arabika kontrak pengiriman Maret 2020 di Intercontinental Exchange (ICE) New York ditutup turun 2,05 sen atau 1,72 persen menjadi US$1,1685 per pon, Selasa (26/11/2019).
Dika Irawan
Dika Irawan - Bisnis.com 27 November 2019  |  18:26 WIB
Harga Kopi Global Turun, Ini Pemicunya
Ceri kopi yang dipanen dikumpulkan di sebuah perkebunan di Sao Joao da Boa Vista, Brasil 6 Juni 2019. - REUTERS / Amanda Perobelli

Bisnis.com, JAKARTA – Harga kopi arabika global melemah pada Rabu (27/11/2019), dipicu oleh pelemahan mata uang real Brasil yang mendorong para produsen kopi untuk melakukan penjualan.

Berdasarkan data Bloomberg, harga kopi arabika kontrak pengiriman Maret 2020 di Intercontinental Exchange (ICE) New York ditutup turun 2,05 sen atau 1,72 persen menjadi US$1,1685 per pon, Selasa (26/11).

Sementara itu, nilai tukar real melemah terhadap dolar AS. Pada perdagangan kemarin, Selasa (26/11), real ditutup turun 0,27 persen atau 0,0116 poin ke level 4,2386 per dolar AS.

Untuk diketahui, mengutip Reuters, dominasi Brasil atas pasokan kopi telah meluas ke pasar mata uang. Kinerja real Brasil yang menjadi lebih kuat berkorelasi dengan harga, dengan demikian Real yang lemah mendorong produsen di sana untuk menjual lebih banyak kopi, yang dihargai dalam dolar.

Dilansir dari Bloomberg, bank sentral Brasil menjual dolar AS untuk pertama kalinya dalam tiga bulan terakhir untuk mengangkat real, setelah mata uang tersebut terjungkal dalam. Reli dolar sering meningkatkan daya tarik ekspor komoditas yang dinilai dalam greenback tersebut.

kebun kopi

Sentimen lainnya, hujan di negara Amerika Selatan tersebut telah membantu prospek pengembangan tanaman.

Sebelumnya, kopi berjangka naik menjadi US$1,1905 per pon, Senin (25/11/2019), tertinggi sejak 8 November 2018. Pada November, kontrak paling aktif telah melonjak 15 persen, menuju kenaikan terbesar sejak Juni 2016, mengikuti perkiraan untuk produksi kopi Brasil yang lebih rendah dan pergerakan global untuk defisit pasokan dari surplus.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
kopi

Editor : M. Taufikul Basari
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top