Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Harga Karet Naik Kena Sentimen Serangan Wabah di Tiga Negara

Kenaikan ini masih dipicu oleh sentimen wabah penyakit tanaman karet di negara-negara produsen, Thailand, Indonesia, dan Malaysia. Penyakit tersebut diperkirakan dapat memangkas produksi karet di negara-negara tersebut.
Dika Irawan
Dika Irawan - Bisnis.com 27 November 2019  |  18:15 WIB
Seorang pekerja mengumpulkan getah di perkebunan karet dekat Bogor, barat daya Jakarta di provinsi Jawa Barat, Indonesia. File foto 28 Mei 2016. REUTERS/Darren Whiteside
Seorang pekerja mengumpulkan getah di perkebunan karet dekat Bogor, barat daya Jakarta di provinsi Jawa Barat, Indonesia. File foto 28 Mei 2016. REUTERS/Darren Whiteside

Bisnis.com, JAKARTA – Harga acuan karet alam dunia masih menguat pada Rabu (27/11/2019) menuju level 200 yen per kilogram.

Berdasarkan data Bloomberg, harga karet alam kontrak pengiriman Mei 2020 di Tokyo Commodity Exchange (Tocom) naik tipis 0,27 persen atau 0,50 poin ke level 189,00 yen per kilogram, pukul 16:10 WIB.

Kenaikan ini masih dipicu oleh sentimen wabah penyakit tanaman karet di negara-negara produsen, Thailand, Indonesia, dan Malaysia. Penyakit tersebut diperkirakan dapat memangkas produksi karet di negara-negara tersebut.

Menurut beberapa laporan, Thailand, produsen dan eksportir karet terbesar dunia sedang bereksperimen dengan beberapa pesawat tanpa awak (drone) sebagai alat pembasmi wabah yang meluas di wilayah penghasil utama karet Negeri Gajah Putih. Akibat wabah itu, diperkirakan dapat memotong produksi karet Thailand hingga 50 persen.

Otoritas juga menanti untuk penilaian hasil dari penggunaan drone untuk menyemprot bahan kimia terhadap pohon-pohon yang sakit itu, setelah fase uji coba sepekan.  “Hal ini merupakan cara terbaik untuk menangkal penyakit tersebut dan juga biayanya terjangkau,” kata Nakorn Takkavirapat, Gubernur Deputi di Rubber Authority of Thailand seperti dikutip dari Bloomberg, Rabu (27/11/2019).

Wabah jamur yang dikenal Pestalotiopsis tersebut, telah menyebar ke Thailand setelah menghantam perkebunan karet di Indonesia dan Malaysia. Penyakit tersebut sangat mempengaruhi pasar karet dunia, mengingat produksi komoditas di tiga negara itu menyumbang sekitar 70 persen produksi karet alam global.

Petani karet

Mengacu temuan survei yang digelar di bagian selatan Thailand di sepanjang perbatasan Malaysia, daerah yang terdampak di provinsi Narathiwat, Thailand, diperkirakan mencapai 16.000 hektare.

Angka tersebut, menurut International Rubber Consortium (IRCo), bisa meluas hingga setidaknya 50.000 hektare di sepanjang wilayah perbatasan.

IRCo juga mencatat, para petani telah melaporkan penurunan produksi antara 40 persen dan 60 persen di wilayah tersebut. Masalah ini diperkirakan sangat mempengaruhi produksi karet, mengingat Oktober, November, dan Desember merupakan bulan puncak panen tahun ini.

Selain itu, laporan menemukan bahwa informasi terbaru menunjukkan bahwa penyakit itu telah menyebar ke provinsi Trang di Thailand, salah satu daerah produksi karet terpadat.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

harga karet
Editor : M. Taufikul Basari
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top