Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Rupiah Diprediksi Kembali Naik

Direktur PT Garuda Berjangka Ibrahim mengatakan bahwa pasar mencerna komentar dari Presiden AS Donald Trump tentang China meningkatkan harapan bahwa kedua belah pihak akan menandatangani kesepakatan perdagangan segera sehingga mendorong rupiah menguat.
Finna U. Ulfah
Finna U. Ulfah - Bisnis.com 26 November 2019  |  07:17 WIB
Seorang pembeli menunjukkan uang Dolar Amerika Serikat yang ditukarnya di gerai penukaran valuta asing, Jakarta, Senin (15/7/2019). - ANTARA/Puspa Perwitasari
Seorang pembeli menunjukkan uang Dolar Amerika Serikat yang ditukarnya di gerai penukaran valuta asing, Jakarta, Senin (15/7/2019). - ANTARA/Puspa Perwitasari

Bisnis.com, JAKARTA – Nilai tukar rupiah terhadap dollar AS diprediksi kembali menguat pada perdagangan hari ini, Selasa (25/11/2019), setelah kemarin parkir di zona hijau seiring dengan optimisme damai dagang antara AS dan China kembali meningkat.

Direktur PT Garuda Berjangka Ibrahim mengatakan bahwa pasar mencerna komentar dari Presiden AS Donald Trump tentang China meningkatkan harapan bahwa kedua belah pihak akan menandatangani kesepakatan perdagangan segera sehingga mendorong rupiah menguat.

Berdasarkan data Bloomberg, pada penutupan perdagangan (25/11/2019) rupiah berada di level Rp14.086 per dolar AS, menguat tipis 0,043% atau 6 poin.

Oleh karena itu, dia memperkirakan rupiah kembali menguat pada perdagangan Selasa (25/11/2019) di kisaran Rp14.055 per dolar AS hingga Rp14.105 per dolar AS.

“Trump mengatakan bahwa kesepakatan dengan China berpotensi semakin dekat untuk direalisasikan. Dia juga mengindikasikan bahwa dia mungkin tidak menandatangani RUU untuk mendukung Hong Kong dalam upaya untuk menenangkan pemerintah China,” papar Ibrahim, seperti dikutip dari keterangan resminya, Senin (25/11/2019).

Selain itu, Perdana Menteri Inggris Boris Johnson, yang juga memimpin Partai Konservatif berhasil di peringkat atas dalam jajak pendapat menjelang pemilihan 12 Desember, dengan janji untuk menyelesaikan Brexit dan membawa kesepakatan untuk meninggalkan Uni Eropa kembali ke parlemen sebelum Natal menjadi angin segar bagi aset berisiko.

Sementara itu, Ahli Strategi Makro DBS Bank Singapura Chang Wei Liang mengatakan bahwa volaitilas pasangan USD/IDR cukup sempit, karena pasar mengantisipasi kesimpulan untuk pembicaraan perdagangan fase pertama AS dan China.

“Pasangan USD/IDR bergerak konsolidasi sekitar Rp14.000 per dolar AS hingga Rp14.200 per dolar AS seiring dengan perbedaan suku bunga yang mendukung. Namun, defisit perdagangan Indonesia menjadi perhatian dan bisa melebar begitu investasi infrastruktur berjalan,” ujar Chang Wei seperti dikutip dari Bloomberg, Senin (25/11/2019).

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Gonjang Ganjing Rupiah
Editor : M. Taufikul Basari
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top