Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Bursa Asia Tertekan, IHSG Ditutup Melemah 0,61 Persen

Berdasarkan data Bloomberg, IHSG ditutup melemah 0,61 persen atau 37,74 poin ke level 6.117,36 setelah tergelincir ke zona merah dengan dibuka terkoreksi 0,31 persen atau 19,34 poin di posisi 6.135,76.
Aprianto Cahyo Nugroho
Aprianto Cahyo Nugroho - Bisnis.com 21 November 2019  |  16:53 WIB
Karyawan melintas di dekat layar pergerakan saham di gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (18/10/2019).  - Antara/Nova Wahyudi
Karyawan melintas di dekat layar pergerakan saham di gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (18/10/2019). - Antara/Nova Wahyudi

Bisnis.com, JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan ditutup di zona merah pada akhir perdagangan hari ini, Kamis (21/11/2019), sejalan dengan pelemahan bursa Asia.

Berdasarkan data Bloomberg, IHSG ditutup melemah 0,61 persen atau 37,74 poin ke level 6.117,36 setelah tergelincir ke zona merah dengan dibuka terkoreksi 0,31 persen atau 19,34 poin di posisi 6.135,76.

Pada perdagangan Rabu (20/11), indeks berhasil mengakhiri pergerakannya di level 6.155,11 meskipun dengan kenaikan tipis 0,05 persen atau 3,02 poin, penguatan hari kedua.

Sepanjang perdagangan Kamis IHSG bergerak pada kisaran 6.099,57-6.137,27.

Enam dari sembilan sektor menetap di zona merah, dengan pelemahan terbesar dialami sektor industri dasar yang turun 2,15 persen, disusul sektor konsumer yang melemah 1,05 persen. Adapun tiga sektor lainnya menguat, dipimpin sektor aneka industri yang menguat 0,12 persen.

Sebanyak 145 saham menguat, 248 saham melemah, dan 269 saham stagnan dari 662 saham yang diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia.

Saham PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk. (CPIN) dan PT Telekomunikasi Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM) yang masing-masing melemah 6,44 persen dan 1,71 persen menjadi penekan utama pelemahan IHSG hari ini.

IHSG melemah mengekor pergerakan bursa saham lainnya di Asia setelah dukungan dari Kongres AS untuk pada demonstran Hong Kong memicu kecaman dari China.

Indeks MSCI Asia Pacific melemah paling dalam sejak tiga bulan terakhir, dengan indeks Hang Seng mencatat pelemahan paling tajam sebesar 1,57 persen. Presiden AS Donald Trump diperkirakan akan menandatangani RUU tersebut terlepas adanya kecaman dari China.

Indeks saham lain juga turut melemah, di antaranya indeks Topix dan Nikkei 225 Jepang yang ditutup turun 0,1 persen dan 0,48 persen, sedangkan indeks Kospi Korea Selatan melemah 1,35 persen.

Di China, indeks Shanghai Composite dan CSI 300 masing-masing ditutup melemah 0,25 persen dan 0,47 persen. Adapun indeks FTSE Straits Time Singapura melemah 1,03 persen.

Sebelumnya, Reuters melaporkan bahwa perjanjian fase pertama antara kedua negara mungkin tertunda hingga awal tahun depan. Pergerakan indeks mereda, dengan aset safe haven seperti yen dan emas memangkas kenaikan, karena ketua negosiator China memberikan sejumlah harapan, mengatakan bahwa negaranya  "berhati-hati” dalam mencapai kesepakatan perdagangan fase pertama dengan AS.

Terkait situasi di Hong Kong, China telah mengancam akan membalas RUU Amerika dan mengatakan bahwa mendukung para demonstran adalah campur tangan yang "kotor" dalam urusan Hong Kong.

"Dari perspektif pasar, ada konsensus bahwa kesepakatan akan tercapai," ungkap Viktor Shvets, kepala analis wilayah Asia di Macquarie Commodities and Global Market, seperti dikutip Bloomberg.

"Mereka perlu menandatangani sesuatu, jika tidak volatilitas di pasar bisa sangat ekstrem," lanjutnya.

Saham-saham yang melemah
KodePergerakan (persen)
CPIN-6,44
TLKM-1,71
TPIA-3,98
BBCA-0,79

Saham-saham yang menguat
KodePergerakan (persen)
SMMA+5,88
BRPT+3,40
BMRI+1,06
PLIN+14,33

Sumber: Bloomberg

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

IHSG Indeks BEI
Editor : Saeno
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top