Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Mandiri Sekuritas: Ini yang Harus Diperhatikan Perusahaan Sebelum IPO

Timing untuk melakukan IPO perlu mempertimbangkan sentimen global dan makroekonomi domestik.
Karyawati berkomunikasi di dekat monitor pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Selasa (3/7/2018)./Bisnis-Nurul Hidayat
Karyawati berkomunikasi di dekat monitor pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Selasa (3/7/2018)./Bisnis-Nurul Hidayat

Bisnis.com, JAKARTA—Mandiri Sekuritas melihat kondisi pasar modal masih menarik untuk penawaran umum saham perdana (initial public offering/IPO) pada sisa akhir tahun ini dan tahun depan. Namun, ada beberapa hal yang harus diperhatikan.

Adrian Joezer, Head of Equity Research Mandiri Sekuritas, menjelaskan bahwa timing untuk melakukan IPO perlu mempertimbangkan sentimen global dan makroekonomi domestik. Pasalnya, investor akan melihat sentimen tersebut berpengaruh terhadap valuasi saham yang akan ditawarkan.

Namun demikian, dari sisi calon emiten juga harus dapat meyakinkan bahwa perusahaannya memang lebih baik dibandingkan dengan perusahaan di sektor sejenis di dalam negeri maupun luar negeri.

“Karena investor tidak hanya melihat pertumbuhan ekonomi, tetapi juga sektor-sektor yang menarik. Misalnya, pemerintah ingin membangun infrastruktur baru, jadi sektor-sektor perusahaan konstruksi bisa diuntungkan,” tutur Adrian di Jakarta, Kamis (24/10/2019).

Menurutnya, permintaan akan selalu ada selama kondisi perusahaan yang akan IPO tersebut tetap solid.

Selanjutnya, apabila perseroan dapat meyakinkan investor bahwa pertumbuhan dan penopang bisnisnya akan solid dari sisi estimasi maka bisa menjadi pertimbangan oleh investor sebelum menyerap saham tersebut.

Adapun, Mandiri Sekuritas melihat risiko utama untuk pasar modal pada sisa tahun ini dan 2020 berasal dari mengetatnya likuiditas di dalam negeri padahal kebutuhan untuk investasi meningkat.

Selain itu, perang dagang AS—China juga masih akan menjadi kekhawatiran perlambatan ekonomi global yang dapat mempengaruhi investasi langsung asing (foreign direct investment/FDI), aliran modal masuk asing (foreign capiral inflow), dan harga komoditas.

Primonanto Budi Atmojo, Director Head of Investment Banking Mandiri Sekuritas, menambahkan bahwa belakangan ini respons pasar sangat positif terhadap holding BUMN.

Menurutnya, holding BUMN akan menjadi lebih menarik untuk IPO ketimbang perusahaan BUMN go public secara terpisah.

“Sebagai contoh, dulu banyak karya-karya yang go public sendiri-sendiri. Ada benarnya kalau perusahaan itu semua dijadikan holding dulu di bawah satu holding, baru go public. Dari sisi skala ekonomi dan valuasi akan menjadi lebih menarik,” ujar Primonanto.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Dwi Nicken Tari
Editor : Ana Noviani

Topik

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper