Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

EM Diproyeksi Bergolak di Tengah Kecemasan Perang Dagang dan Kebijakan Fed

Amerika Serikat dan China akan memulai kembali perundingan dagang tingkat tinggi di Washington pada 10-11 Oktober.
Nirmala Aninda
Nirmala Aninda - Bisnis.com 07 Oktober 2019  |  11:18 WIB
Seorang wanita berjalan melewati papan elektronik yang menunjukkan grafik pergerakan indeks Nikkei Jepang baru-baru ini. - Reuters
Seorang wanita berjalan melewati papan elektronik yang menunjukkan grafik pergerakan indeks Nikkei Jepang baru-baru ini. - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA -- Pasar negara berkembang (emerging market) jarang mengalami pergolakan akibat perang dagang, tetapi optimisme bank sentral untuk melanjutkan upaya stimulus memberikan sinyal bahwa pekan ini akan ada perubahan harga yang lebih signifikan.

Amerika Serikat dan China akan memulai kembali perundingan dagang tingkat tinggi di Washington pada 10-11 Oktober.

Namun, para investor skeptis dengan tercapainya sebuah terobosan dari perundingan pekan ini ketika pada saat yang sama Presiden AS Donald Trump sedang melawan Kongres atas penyelidikan terkait pemakzulan dirinya.

Sebelum itu, semua mata akan tertuju pada pidato yang akan disampaikan Gubernur The Fed Jerome Powell pada 8-9 Oktober.

Para investor mencoba untuk mencari petunjuk apakah bank sentral akan melanjutkan pelonggaran kebijakan moneter pada akhir bulan ini.

Tanda-tanda bahwa ekonomi terbesar dunia tersebut sedang melambat membebani saham-saham negara berkembang untuk pekan ketiga, sedangkan mata uang di sejumlah negara menguat karena dolar AS sedikit mengalami perubahan.

Manajer Keuangan di North Asset Management LLP London Peter Kisler mengatakan bahwa Trump mungkin akan memberikan kabar baik, mengingat pasar dan ekonomi sedang melemah.

"Tapi saya ragu hal itu akan memberikan dampak signifikan. Kami akan terus relatif bearish terhadap kredit pasar berkembang, meskipun valuta asing tidak terlihat terlalu buruk," ujar Kisler, seperti dikutip melalui Bloomberg, Senin (7/10/2019).

Menurut sejumlah sumber, pejabat China memberi sinyal bahwa mereka semakin enggan untuk menyetujui kesepakatan perdagangan yang ditawarkan Trump.

Pada saat China berencana untuk mengajukan penawaran lain, salah satu sumber menyampaikan bahwa isinya tidak akan mencakup komitmen untuk mereformasi kebijakan industri atau subsidi pemerintah yang telah dikeluhkan oleh AS.

Para traders juga akan menentukan langkah dari perubahan yuan ketika pasar China dibuka kembali pada Selasa (8/10/2019), setelah ditutup sepanjang pekan lalu.

Adapun, Goldman Sachs Group Inc. menyatakan tetap negatif terhadap pergerakan mata uang dalam waktu dekat bersamaan dengan ekspektasi dari penerapan tarif tambahan AS terhadap impor China pada 15 Oktober.

Sementara volatilitas tersirat (implied volatility) untuk mata uang negara berkembang berada pada level terendah selama 2 bulan terakhir, indikator teknis menunjukkan aman mungkin akan segera bergejolak.

Rata-rata pergerakan 50 hari bergerak hampir melampaui rata-rata pergerakan 200 hari.

Hal serupa terakhir kali terjadi pada Februari 2018, yang merupakan sinyal sebelum lonjakan volatilitas tertinggi selama dua setengah tahun pada September tahun yang sama.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

perang dagang AS vs China
Editor : Achmad Aris
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top