PepsiCo Cabut dari Indonesia, Bagaimana Dampaknya ke Emiten ICBP?

PepsiCo mengakhiri kontrak kerja sama produksi dengan PT Anugerah Indofood Barokah Makmur (AIBM), entitas anak dari PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk. Lantas, bagaimana dampak terhadap emiten bersandi saham ICBP ini?
Azizah Nur Alfi
Azizah Nur Alfi - Bisnis.com 05 Oktober 2019  |  09:14 WIB
PepsiCo Cabut dari Indonesia, Bagaimana Dampaknya ke Emiten ICBP?
Pepsi - wikipedia.org

Bisnis.com, JAKARTA - PepsiCo mengakhiri kontrak kerja sama produksi dengan PT Anugerah Indofood Barokah Makmur (AIBM), entitas anak dari PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk. Lantas, bagaimana dampak terhadap emiten bersandi saham ICBP ini?

Analis Panin Sekuritas Rendy Wijaya mengatakan berakhirnya kontrak kerja sama tersebut tidak akan memengaruhi kinerja fundamental perseroan. Apalagi, entitas anak dari PT Indofood Sukses Makmur Tbk. ini, lebih banyak ditopang oleh segmen mi instan.

Analis mengatakan, segmen minuman hanya berkontribusi sekitar 5% terhadap total penjualan bersih. Selain itu, divisi minuman juga masih membukukan rugi hingga paruh pertama tahun ini, meski mengecil dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Pada semester I/2019, ICBP membukukan total penjualan bersih Rp22,13 triliun atau tumbuh 13,72% secara tahunan. Penjualan dari divisi minuman sebesar Rp975,65 miliar atau tumbuh 3,20% secara tahunan.

Divisi minuman hanya berkontribusi 4,41% terhadap penjualan bersih setelah eliminasi. Dari sisi bottomline, divisi ini masih membukukan rugi usaha sebesar Rp100,03 miliar pada paruh pertama tahun ini, lebih kecil dari rugi usaha sebesar Rp158,94 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Analis mengatakan indikasi berakhirnya kontrak kerja sama AIBM dengan salah satu perusahaan produsen minuman terbesar di dunia itu, telah tampak dari produk-produknya mulai lenyap dari pasar.

“Dari sisi kompetisi memang masih ketat. Sehingga kami melihat ke depannya, divisi beverage tidak akan improve signifikan. Kontribusi PepsiCo sendiri tidak signifikan, sehingga tidak terlalu berdampak,” katanya, Kamis (3/10).

Penopang kinerja ICBP masih berasal dari divisi mi instan yang berkontribusi 65,85% terhadap total penjualan bersih. Apalagi, penjualan divisi ini tumbuh 14,84% secara tahunan.

Analis memperkirakan margin laba ICBP masih stabil ke depan seiring dengan harga bahan baku gandum yang cenderung flat. “Harga gandum cenderung flat sehingga margin keuntungan lebih stabil sampai akhir tahun,” imbuhnya.

Panin Sekuritas mempertahankan rekomendasi beli terhadap saham ICBP dengan target harga ke Rp13.700. Apalagi, ICBP masih memiliki prospek positif ke depan didukung pertumbuhan yang solid dari segmen noodles sebagai kontributor terbesar terhadap pendapatan bersih.

PEMIMPIN PASAR

ICBP juga mampu mempertahankan posisi market leader dengan market share diperkirakan berada di kisaran 72%—75%. Selain itu, harga bahan baku yang relatif stabil akan turut menjaga stabilitas margin keuntungan ke depan. Juga posisi neraca yang kuat dengan posisi net cash.

“Sejalan dengan hal ini, kami menaikkan estimasi laba operasi dan laba bersih di 2019 sebesar 10,9% dan 6,6% secara berturut-turut, dan memperkirakan pertumbuhan pendapatan serta laba bersih di 2020 akan berada di kisaran 7%—8% secara tahunan,” imbuhnya dikutip dari riset pertengahan September.

Analis Mega Capital Sekuritas Helen mengatakan selain mi instan, kinerja ICBP juga didukung divisi dairy yang berkontribusi 18,41% terhadap total penjualan bersih setelah eliminasi. Divisi dairy mencatatkan pertumbuhan penjualan 7,41% secara tahunan menjadi Rp4,07 triliun pada semester I/2019.

Sebaliknya, divisi minuman belum mampu membukukan keuntungan sejak kehadirannya. Analis mengatakan berakhirnya kontrak kerja sama entitas anak dengan PepsiCo tidak berdampak ke kinerja perseroan.

“Beverages saat ini persaingannya cukup ketat. ICBP juga bukan satu-satunya perusahaan beverages. Apalagi terjadi pergeseran selera konsumen yang akhirnya berpengaruh ke kinerja,” imbuhnya.

Mega Capital Sekuritas merekomendasikan beli terhadap saham ICBP dengan target harga Rp12.600, yang mencerminkan target PER 27,9 kali pada 2020.

ICBP diperkirakan dapat mencapai pendapatan sebesar Rp42,74 triliun pada 2019 dan Rp47,22 triliun pada 2020, serta laba bersih sebesar Rp4,95 triliun pada 2019 dan Rp5,27 triliun pada 2020.

Analis PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia Mimi Halimin mengatakan potensi inflasi tinggi karena kenaikan beberapa tarif seperti BPJS dan harga rokok dapat memukul daya beli konsumen di tahun depan. Namun, margin EBIT mi instan diperkirakan tetap sekitar 21% pada tahun depan seiring dengan biaya bahan baku yang masih terkendali.

Analis memperkirakan pendapatan ICBP tumbuh 13,5% menjadi Rp43,6 triliun dengan net profit Rp5,2 triliun atau tumbuh 14%. Mirae Asset Sekuritas merekomendasikan beli terhadap saham ICBP dan menaikkan target harga Rp13.300 dari sebelumnya Rp11.800, mencerminkan PE 26 kali terhadap proyeksi EPS 2020.

“Kami positif ke ICBP karena kemampuannya meningkatkan permintaan rasa mi instan baru dan kekuatan harga, berkat produk premium dan pangsa pasar yang dominan,” katanya dikutip dari riset pada 27 September 2019.

Pada perdagangan Kamis (3/10), saham ICBP ditutup pada harga Rp12.200, sama dengan harga penutupan perdagangan sebelumnya. Sepanjang tahun berjalan, saham ICBP telah naik 16,75%.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
market, pepsico inc

Editor : Akhirul Anwar

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top