Masuk Papan Atas, Pendapatan Bali Bintang Sejahtera (BOLA) Terdongkrak

Hingga semester I/2019, PT Bali Bintang Sejahtera Tbk. baru menyerap 3 persen dari raihan dana IPO Rp350 miliar.
Muhammad Ridwan
Muhammad Ridwan - Bisnis.com 11 September 2019  |  19:36 WIB
Masuk Papan Atas, Pendapatan Bali Bintang Sejahtera (BOLA) Terdongkrak
CEO PT Bali Bintang Sejahtera Tbk Yabes Tanuri (kanan) berbincang dengan Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Inarno Djayadi (kiri), usai pencatatan perdana saham perseroan, di Galeri BEI, Jakarta, Senin (17/6/2019). - Bisnis/Endang Muchtar

Bisnis.com, JAKARTA — Pendapatan PT Bali Bintang Sejahtera Tbk., pemilik klub sepak bola Bali United terdongkrak setelah masuk ke papan atas Liga 1 Indonesia.

Berdasarkan laporan keuangan pada semester I/2019, pendapatan emiten berkode saham BOLA itu tumbuh sebesar 40,53% menjadi Rp72,64 miliar dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun lalu senilai Rp51,69 miliar.

Direktur Utama Bali Bintang Sejahtera Yabes Tanuri mengungkapkan bahwa performa klub berjuluk Serdadu Tridatu yang baik pada tahun ini berhasil meningkatkan pendapatan lebih untuk perseroan.

Adapun, hingga paruh musim Liga 1 Indonesia, Bali United berada di puncak klasemen. Pada tahun lalu, Bali United menutup musim pada peringkat ke-11.

“Pendapatan anak usaha meningkat, secara menyeluruh terutama di bagian masuk ke papan atas, jadi jumlah penonton meningkat, tiket meningkat, semua sangat berimbang,” ujarnya kepada Bisnis, Rabu (11/9/2019).

Sementara itu, pada posisi laba bersih tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk pada semester I/2019 tercatat tergerus tipis. Pada periode tersebut laba perseroan tercatat turun 0,43% menjadi Rp6,87 miliar dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu senilai Rp6,9 miliar.

Yabes mengungkapkan bahwa penurunan tersebut disebabkan oleh beban yang dikeluarkan perseroan saat mempersiapkan gelaran penawaran umum saham perdana atau initial public offering (IPO) pada Juni 2019 lalu.

“Itu karena ada beban yang kebetulan yang kita persiapan IPO, ketika bikin iklan itu masuk working capital, biaya audit internal, biaya promosi,” jelasnya.

Saat itu, BOLA menawarkan 2 miliar saham yang setara dengan 33,33% dari modal yang ditempatkan dan disetor penuh dengan harga Rp175. Perseroan menyerap dana segar senilai Rp350 miliar dari gelaran tersebut.

Berdasarkan prospektus perseroan, dana hasil IPO rencananya sekitar 19,1% akan digunakan sebagai belanja modal perseroan, yaitu untuk pengembangan fasilitas dan peralatan di stadion, pengembangan fasilitas latihan dan akademi dan pengembangan pada teknologi informasi.

Sekitar 20,4% akan digunakan untuk memperkuat struktur permodalan kepada entitas anak. Sekitar 60,5% akan digunakan sebagai modal kerja perseroan, antara lain untuk merekrut pemain dan atau pelatih yang profesional, penyelenggaraan event serta operasional klub, megastore, dan akademi sepak bola.

Yabes mengatakan bahwa hingga semester I/2019 dana tersebut belum terserap banyak. Dia mengatakan bahwa hingga periode tersebut dana hasil IPO baru terserap sekitar 3%.

“Baru untuk membayar desain, September ini baru persiapan pembangunan [stadion]," ucapnya.

Berdasarkan laporan realisasi penggunaan dana IPO, Bali Bintang Sejahtera telah menyerap Rp9,51 miliar dana IPO yang dikucurkan untuk fasilitas Rp1,07 miliar, bisnis Rp581,15 juta, dan modal kerja Rp7,85 miliar.

Dengan demikian, BOLA masih mengantongi dana hasil IPO Rp328,4 miliar per 30 Juni 2019.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
kinerja emiten, bali united

Editor : Ana Noviani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top