Implementasi GCG di WSKT Berdampak Signifikan

Kinerja positif yang diraih Waskita selama beberapa tahun terakhir diklaim sebagai hasil dari penerapan tata kelola perusahaan yang baik dan bersih sesuai dengan good corporate governance (GCG) yang dijalankan.
M. Taufikul Basari
M. Taufikul Basari - Bisnis.com 10 September 2019  |  18:34 WIB
Implementasi GCG di WSKT Berdampak Signifikan
Director of HCM & System Development Waskita Karya Hadjar Seti Adji - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA – Pernah mengalami serentetan catatan buruk di bidang keselamatan kerja, kini PT Waskita Karya (Persero) Tbk. (WSKT) mengklaim telah mencapai zero accident untuk proyek-proyek yang dikerjakannya.

WSKT yang diajukan oleh Kementerian Ketenagakerjaan dan Kementerian PUPR bakal menerima WSO Concerned Company Award dari World Saferty Organization pada tahun ini.

Kinerja positif yang diraih Waskita selama beberapa tahun terakhir diklaim sebagai hasil dari penerapan tata kelola perusahaan yang baik dan bersih sesuai dengan good corporate governance (GCG) yang dijalankan.

Director of HCM & System Development Waskita Karya Hadjar Seti Adji mengatakan perseroan senantiasa menerapkan GCG yang berkesinambungan agar dapat memberikan nilai tambah bagi stakeholders.

Waskita pun mewajibkan seluruh pegawai, mulai level direksi sampai dengan level kepala proyek atau pejabat lain yang memiliki fungsi strategis, untuk membuat dan melaporkan harta kekayaannya kepada Komisi Pemberantasan Korupsi Republik Indonesia (KPK), sesuai dengan surat Keputusan Direksi No.32/SK/WK/PEN/2013 tentang Penetapan Pedoman Sistem LHKPN PT Waskita Karya (Persero) Tbk.

Berdasarkan data LHKPN 2018, Waskita jadi BUMN dengan jumlah penyelenggara negara wajib LHKPN terbanyak, yaitu 306 dan seluruhnya telah melapor. Persentase 100 persen sudah lapor juga diraih PT Istaka Karya (Persero), namun jumlah penyelenggara negara wajib LHKPN hanya 9 orang.

“Waskita tepat waktu menyampaikan pelaporan. Ini jadi bukti nyata kami anti korupsi, juga mendukung keinginan KPK agar perusahaan lebih komitmen dalam menerapkan GCG,” kata Hadjar, Selasa (10/9/2019).

Melalui penerapan GCG, Waskita mengklaim selalu berkomitmen untuk menaati setiap aspek hukum, sehingga mampu menjalankan perusahaan secara profesional dan efisien. Salah satu keberhasilan GCG perseroan yakni apresiasi sebagai “Top 5 GCG Issues in Construction Sector” pada 2018.

Tahun ini, Waskita juga meraih Juara 1 The Best Indonesian GCG Implementation kategori State Owned Enterprise Public Company kategori Building and Costruction, dari Economic Review.

Dan atas penerapan GCG yang efektif ini, pada Agustus 2019, Waskita juga meraih penghargaan Top Governance, Risk and Compliance (GRC) 2019 dan The Most Committed GRC Leader 2019 kategori Top GRC 2019 dari Top Business Magazine.

Selain itu dari assessment Penerapan GCG yang dilakukan BPKP terhadap tahun buku 2018 menyatakan penerapan GCG yang dilakukan oleh Waskita telah memenuhi kesesuaian dan telah diimplementasikan dengan “Sangat Baik” berdasarkan Kerangka Acuan Pelaksanaan Assessment GCG yang berlaku.

Hadjar menjelaskan bahwa kebijakan sistem whistleblowing di Waskita mencakup antara lain cara pengaduan, perlindungan dan jaminan kerahasiaan pelapor, penanganan pengaduan, pihak yang mengelola aduan, dan hasil penanganan dan tindak lanjut pengaduan.

Waskita juga sudah menyempurnakan Pedoman Sistem Pelaporan Pelanggaran (SPP) Whistle Blowing System (WBS). Langkah perbaikan di internal pun dilakukan, melalui penerapan aspek teknologi berbasis digital, sehingga setiap kebijakan dilakukan cepat juga transparan.

Menurutnya, perseroan melakukan transformasi agar dapat bersaing dengan perusahaan lain dan jadi market leader di bidang konstruksi.

Seiring dengan penerapan GCG dan pembaharuan sistem teknologi berbasis digital, manajemen Waskita Karya turut melakukan transformasi dibidang Keselamatan dan Kesehatan Kerja, Lingkungan, dan Mutu (K3LM) pada proyek-proyek yang sedang dikerjakan. Hampir semua direksi saat ini adalah orang baru, setelah sebelumnya 5 direksinya dicopot.

“PT Waskita Karya (Persero) Tbk berupaya keras dengan mengukuhkan komitmen seluruh insan Waskita terhadap K3LM melalui perbaikan SOP, metode kerja, dan peningkatan disiplin para pegawai dalam mendukung percepatan pembangunan infrastruktur di Indonesia,” tegas Hadjar.

Saat ini, Waskita memiliki 800 ahli muda dengan sertifikat keahlian bidang PUPR dengan 500 di antaranya ahli K3 konstruksi. Sejak tahun 2018 Waskita menjadi tempat studi banding K3 dari instansi pemerintah dalam dan luar negeri, BUMN dan BUMD sebanyak lebih dari 9 kali, dan pada tahun 2019 sudah 5 kali dilakukan.

Waskita juga mendapatkan sertifikat zero accident di 33 proyek, P2 HIV AIDS sertifikat 1 emas di proyek (Becakayu koneksi), 3 silver masing-masing 2 dari proyek tol Cibitung - Cilincing, dan 1 dari proyek Bendungan Gondang.

Kemudian, Waskita juga secara rutin dipercaya sebagai narasumber dalam corporate training metode konstruksi pekerjaan high risk elevated: non standar erection girder di PUPR dan PII Persatuan Insinyur Indonesia.

Selanjutnya, pengelolaan dan pengendalian risiko K3LM, cross audit, cross learning/improvement telah dilakukan menggunakan aplikasi on line (web base dan mobile base) real time dan fastest.

Secara berkelanjutan WSKT melakukan asesment personil Quality Control (QC) dan Health, Safety, Environment HSE) melalui sistem grading ahli muda, madya dan utama untuk memastikan personel QC dan HSE yang unggul.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
wskt

Editor : M. Taufikul Basari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top