Suku Bunga Turun, Ini Saham Bank yang Direkomendasikan Bahana Sekuritas

Pemangkasan suku bunga acuan 7-Day Reserve Repo Rate (7-DRRR) dinilai bakal menguntungkan sejumlah emiten perbankan.
Dwi Nicken Tari
Dwi Nicken Tari - Bisnis.com 26 Agustus 2019  |  16:11 WIB
Suku Bunga Turun, Ini Saham Bank yang Direkomendasikan Bahana Sekuritas
Karyawan beraktivitas di dekat papan penunjuk pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Jakarta, Senin (4/2/2019). - Bisnis/Felix Jody Kinarwan

Bisnis.com, JAKARTA — Pemangkasan suku bunga acuan 7-Day Reserve Repo Rate (7-DRRR) dinilai bakal menguntungkan sejumlah emiten perbankan.

Kepala Riset Bahana Sekuritas Lucky Ariesandi menjelaskan, terbukanya ruang kebijakan moneter longgar bakal menguntungkan sejumlah emiten perbankan. Pasalnya, industri perbankan sangat sensitif terhadap perubahan suku bunga.

Lucky menyebut bank yang memiliki porsi dana murah sedikit akan mendapat angin segar. Salah satunya, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. Apalagi, saham BBNI dinilai memiliki valuasi yang murah.

Bahana Sekuritas merekomendasikan beli BBNI ini. Pasalnya, tren penurunan suku bunga akan memberikan ruang untuk ekspansi kredit dengan rasio net interest margin (NIM) yang terjaga stabil dan rasio kredit bermalasah yang membaik bagi perseroan.

Begitu pula untuk PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) yang dinilai akan mendapat katalis positif dari suku bunga rendah karena porsi dana murah yang dimiliki perseroan belum terlalu besar atau kontras dengan yang dimiliki PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMTR) dan PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA).

“Dengan tren penurunan suku bunga yang terjadi saat ini, ruang bagi kedua bank [BBNI dan BBRI] tersebut untuk mempertahankan NIM lebih kecil, plus valuasi saham keduanya juga sudah cukup tinggi,’’ ungkap Lucky.

Sementara itu, peluang bank skala menengah seperti PT Bank Danamon Tbk. (BDMN) dan PT Bank Tabungan Pensiunan Nasional Tbk. (BTPN) diperkirakan Lucky masih terbatas.

Pasalnya, Bank Danamon yang akan merger dengan Bank Nusantara Parahyangan, setelah keduanya dimiliki oleh Mitsubishi UFJ Financial Group Inc., dinilai belum akan melakukan ekspansi bisnis hingga seluruh proses merger selesai.

Adapun, langkah pelonggaran moneter semakin serius dilakukan oleh Bank Indonesia demi menopang pertumbuhan ekonomi saat kinerja ekspor belum memperlihatkan perbaikan. Pada saat bersama, ketidakpastian global akibat perang dagang AS dan China juga masih berlarut-larut.

Rapat Dewan Gubernur BI pekan lalu kembali memotong suku bunga acuan sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 5,5%, setelah pada Juli juga memangkas suku bunga pada level yang sama.

Lucky menjelaskan, meninggalkan kebijakan moneter ketat saat kondisi global cukup fluktuatif tentunya bukan tanpa risiko apalagi pengaruhnya terhadap pasar keuangan domestik. Adapun, ruang penurunan suku bunga, menurutnya, masih akan terbuka hingga akhir tahun secara total sebesar 50 bps menjadi 5,0%.

‘’Langkah penurunan ini akan membantu perbaikan neraca perdagangan dan dana asing bakal masuk ke surat utang pemerintah, yang pada akhirnya hal ini akan menopang nilai tukar,’’ ungkap Lucky.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
rekomendasi saham

Editor : Ana Noviani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top