LOGAM INDUSTRI: Pasar Nikel Diproyeksi Berbalik Surplus

Pasar nikel yang sebelumnya dibayangi oleh proyeksi defisit pasokan akibat meningkatnya permintaan logam seiring dengan pertumbuhan permintaan mobil listrik terancam akan segera beralih menjadi surplus
Finna U. Ulfah
Finna U. Ulfah - Bisnis.com 14 Agustus 2019  |  14:58 WIB
LOGAM INDUSTRI: Pasar Nikel Diproyeksi Berbalik Surplus
Pekerja mengeluarkan biji nikel dari tanur dalam proses furnace di smelter PT. Vale Indonesia di Sorowako, Luwu Timur, Sulawesi Selatan, Sabtu (30/3/2019). - ANTARA/Basri Marzuki

Bisnis.com, JAKARTA - Pasar nikel global terancam dapat beralih menjadi surplus menyusul data produksi salah satu hasil olahan biji nikel atau nickel pig iron (NPI) China naik mencapai rekor baru.

Citic Futures Co mengatakan dalam risetnya bahwa pasar nikel yang sebelumnya dibayangi oleh proyeksi defisit pasokan akibat meningkatnya permintaan logam seiring dengan pertumbuhan permintaan mobil listrik terancam akan segera beralih menjadi surplus.

“Pasar nikel dapat beralih ke surplus dari keseimbangannya karena produksi NPI yang tengah berjalan diatur untuk meningkat karena pabrik berhasil membukukan margin yang sangat tinggi," tulis Citic Futures Co dalam risetnya seperti dikutip dari Bloomberg, Rabu (14/8/2019).

Berdasarkan data pusat perdagangan Grand Flow Resources, produksi NPI China periode Juli berjumlah 52.288 ton logam yang terkandung, atau rata-rata produksi sebesar 1.687 ton per hari hari, menjadi jumlah produksi tertinggi sejak 2012.

Secara year on year, produksi telah meningkat drastis sebanyak 38,7%, sedangkan secara month on month naik 7,1% dibandingkan dengan produksi pada bulan sebelumnya sebesar 1.627 ton per hari.

Analis Grand Flow Resources Celia Wang mengatakan bahwa produksi harian NPI China naik ke level rekor terbaru pada pekan lalu disebabkan oleh kenaikan harga nikel global yang memacu produksi dan kapasitas terbaru.

Adapun, NPI adalah alternatif yang lebih rendah untuk nikel olahan dan China merupakan pengguna dan produsen nikel terbesar di dunia.

Sepanjang tahun berjalan, harga nikel di bursa London Metal Exchange (LME) telah bergerak menguat 48,7%. Sementara itu, dalam satu bulan terakhir harga nikel telah bergerak 12,92% dipicu oleh spekulasi larangan ekspor bijih nikel dari produsen utama Indonesia akan dimajukan dari jadwal yang telah ditetapkan sebelumnya, yaitu pada 2022.

Pasar khawatir larangan tersebut akan semakin menekan pasokan nikel di tengah meningkatnya permintaan dari mobil listrik.

Mengutip Bloomberg, Menteri Perdagangan Indonesia Enggartiasto Lukita mengatakan bahwa pemerintah tengah mempertimbangkan perubahan batas waktu terhadap larangan ekspor bijih nikel yang dijadwalkan mulai berlaku pada 2022.

“Belum ada keputusan apapun yang dibuat dan rencana semacam itu akan membutuhkan pertimbangan matang karena akan merugikan ekspor,” ujar Enggar seperti dikutip dari Bloomberg.

Adapun, komentar Enggar menjadi komentar pertama dari Pemerintah Indonesia yang mengonfirmasi bahwa pihak berwenang sedang mempertimbangkan perubahan batas waktu larangan.

Di sisi lain, analis PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia Andy Wibowo Gunawan dalam risetnya mengatakan bahwa perkiraan yang lebih rendah dari pasokan nikel LME tidak akan banyak membantu untuk meningkatkan harga nikel global sepanjang pekan ini.

Berdasarkan data Bloomberg, pada perdagangan Rabu (14/8/2019), harga nikel di bursa Shanghai bergerak melemah menjadi 123.520 yuan per ton dibandingkan dengan harga pembukaan di level 124.380 yuan per ton.

Sementara itu, pada perdagangan Selasa (13/8/2019), harga nikel di bursa LME ditutup di level US$15.925 per ton, menguat 1,37% dipicu oleh keputusan Presiden AS Donald Trump untuk menunda pengenaan beberapa tarif impor China yang semula diberlakukan pada 1 September 2019.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
komoditas, Nikel

Editor : Ana Noviani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top