Permintaan Aset Safe Haven Meningkat, Yen dan Swiss Franc Diincar Investor

Mata uang aset investasi aman, yen dan swiss franc, diburu investor seiring dengan meningkatnya kekhawatiran pasar terkait dengan perang dagang AS dan China, ketidakpastian ekonomi Italia, dan pembacaan data ekonomi yang lemah hampir di seluruh dunia.
Mia Chitra Dinisari
Mia Chitra Dinisari - Bisnis.com 11 Agustus 2019  |  08:18 WIB
Permintaan Aset Safe Haven Meningkat, Yen dan Swiss Franc Diincar Investor
Mata uang Yen Jepang - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA - Mata uang aset investasi aman, yen dan swiss franc, diburu investor seiring dengan meningkatnya kekhawatiran pasar terkait dengan perang dagang AS dan China, ketidakpastian ekonomi Italia, dan pembacaan data ekonomi yang lemah hampir di seluruh dunia.

Berdasarkan data Bloomberg, pada perdagangan akhir pekan lalu, Jumat (9/8/2019), yen bergerak menguat 0,36% menjadi 105,69 yen per dolar AS, membuat yen melonjak ke level tertingginya melawan dolar AS dalam 7 bulan terakhir. Sementara itu, swiss franc menguat 0,21% menjadi 0,9727 swiss franc per dolar AS.

Adapun, likuiditas yang dalam dan surplus transaksi berjalan di Jepang dan Swiss telah menjadikan mata uang mereka sebagai aset investasi aman ketika pasar berada dalam tekanan geopolitik dan ekonomi.

Ahli Strategi Valas Rabobank London Jane Foley mengatakan bahwa eskalasi perang perdagangan antara AS dan China yang belum lama ini kembali terjadi menunjukkan adanya potensi untuk permintaan yang kuat terhadap aset safe haven ke depan sehingga menyiratkan ruang lingkup yang luas untuk penguatan yen.

“Namun, kekuatan yen tidak akan disambut baik oleh BoJ [Bank of Japan], yang terus berjuang untuk mendorong inflasi CPI Jepang menuju sasaran 2%," ujar Jane seperti dikutip dari Reuters, Minggu (11/8/2019).

Hal yang sama, lanjut Foley, juga berlaku untuk franc Swiss seiring dengan ekonomi Swiss yang juga dalam posisi anggaran positif, bahkan jauh lebih baik daripada Jepang.

Sementara itu, serangkaian data ekonomi di dunia yang dirilis negatif pekan lalu menjadi katalis positif kedua mata uang. Indeks harga produsen AS turun 0,1% pada Juli, menunjukkan inflasi AS tetap rendah, sedangkan ekonomi Kanada telah kehilangan 24.200 pekerjaan pada bulan lalu.

Di Inggris, pertumbuhan ekonomi menyusut untuk pertama kalinya sejak 2012 dengan PDB terkontraksi -0,2%pada kuartal kedua tahun ini.

Selain itu, aksi jual tengah melanda obligasi Italia setelah partai Liga mengajukan mosi tidak percaya terhadap koalisi pemerintahnya sendiri yang juga menambah ketegangan global.

Kepala populis partai itu, Matteo Salvini, berharap langkah tersebut akan memicu pemilihan awal dan mengangkatnya sebagai pemimpin baru.

Di sisi lain, indeks dolar AS yang mengukur kekuatan greenback di hadapan sekeranjang mata uang mayor bergerak melemah 0,13% menjadi 97,491.

Greenback melemah terhadap sekeranjang mata uang, tertekan saat Presiden AS Donald Trump kembali menyerukan harapannya terhadap mata uang yang lebih lemah untuk membantu produsen Amerika.

Trump mengatakan, dirinya percaya Federal Reserve perlu menurunkan suku bunga dengan persentase poin penuh pada pertemuan selanjutnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
yen

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top