Perang Dagang, China Berencana Hapus Kuota Impor Minyak Sawit

Nantinya produk-produk pertanian itu tidak akan dikenakan pembatasan yang mungkin dikenakan pada produk lain seperti gandum, jagung, dan beras.
Dika Irawan
Dika Irawan - Bisnis.com 07 Agustus 2019  |  12:27 WIB
Perang Dagang, China Berencana Hapus Kuota Impor Minyak Sawit
Minyak sawit - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA – Kementerian Perdagangan China berencana menghapus minyak kedelai, minyak lobak, dan minyak sawit dari manajemen kuota tarif impor mereka.

Dikutip dari Reuters, Rabu (7/8/2019), berita tersebut muncul setelah sehari sebelumnya, kementerian tersebut menyatakan, perusahaan-perusahaan China telah berhenti membeli produk pertanian Amerika Serikat, sebagai tanggapan atas keputusan Presiden AS Donald Trump yang memberlakukan tarif pada US$300 miliar impor China lainnya.

Keputusan tersebut dengan tajam meningkatkan sengketa perdagangan antar dua ekonomi terbesar tersebut.

Dalam laman resmi mereka, dilaporkan oleh Reuters, komoditas-komoditas tersebut telah dihapus dari daftar rancangan kuota tarif manajemen.

Jika terealisasi, nantinya produk-produk pertanian itu tidak akan dikenakan pembatasan yang mungkin dikenakan pada produk lain seperti gandum, jagung, dan beras. Draf ini terbuka untuk umpan balik publik hingga 22 Agustus.

Sebelumnya, China Kementerian Perdagangan China menyatakan, perusahaan-perusahaan asal negara mereka telah berhenti membeli produk agrikultural AS. Selain itu, kementerian tersebut menyatakan, China juga kemungkinan mengenakan tarif tambahan untuk produk-produk pertanian AS.

Kementerian Perdagangan China berharap Amerika Serikat akan menepati janji dan menciptakan kondisi yang diperlukan untuk membangun kerja sama bilateral.

Keputusan tersebut pun menjadi pukulan telak bagi petani-petani AS yang sudah menderita akibat perang dagang ini. Lebih jauh lagi, bakal menyengsarakan mereka yang mendukung Trump pada pemilu 2016. Sedangkan masa depan penyelesaian perang dagang kedua negara ekonomi terbesar dunia itu semakin suram.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
komoditas, perang dagang AS vs China

Editor : Ana Noviani
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top