Kinerja Emiten Konglomerasi Konsumer dan Keuangan Solid

Kinerja emiten konglomerasi sepanjang semester I/2019 bervariasi dengan kecenderungan tertekan akibat pelemahan harga komoditas dan perlambatan ekonomi global. Meski demikian, sektor jasa keuangan dan konsumer masih cukup solid menopang performa hingga akhir tahun
Tim Bisnis Indonesia
Tim Bisnis Indonesia - Bisnis.com 01 Agustus 2019  |  14:27 WIB

Bisnis.com, JAKARTA — Kinerja emiten konglomerasi sepanjang semester I/2019 bervariasi dengan kecenderungan tertekan akibat pelemahan harga komoditas dan perlambatan ekonomi global. Meski demikian, sektor jasa keuangan dan konsumer masih cukup solid menopang performa hingga akhir tahun.

Performa emiten korporasi menjadi topik headline koran cetak Bisnis Indonesia edisi Kamis (1/8/2019). Berikut laporannya.

Di sektor konsumer, grup konglomerasi Salim melalui PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk.(ICBP) masih mampu membukukan kenaikan laba bersih 12,38% secara tahunan (year-on-year/y-o-y), dari Rp2,29 triliun pada semester I/2018 menjadi Rp2,57 triliun pada semester I/2019.

Sementara itu, laba bersih PT Nippon Indosari Corpindo Tbk. (ROTI) tumbuh 153,82% menjadi Rp101,45 miliar. (lihat tabel)

Adapun, di sektor keuangan, mayoritas emiten dalam Grup Panin berhasil membukukan pertumbuhan laba bersih positif.

Sementara itu, BBCA, dari Grup Djarum, mampu mencetak pertumbuhan pendapatan 16,1% sepanjang semester I/2019 menjadi Rp34,2 triliun dan laba bersih tumbuh 12,6% (y-o-y) menjadi Rp12,9 triliun.

Di sisi lain, konglomerasi yang mengandalkan sektor komoditas, baik pertanian maupun pertambangan, tampaknya masih harus gigit jari. Pasalnya, rata-rata capaian pertumbuhan laba bersihnya masih merah.

Anthoni Salim, Direktur Utama sekaligus Chief Executive Officer Indofood (INDF) dan ICBP, merasa senang atas kinerja positif dua emiten itu pada semester I/2019.

"Pencapaian [INDF] yang baik telah dikontribusikan oleh Grup CBP termasuk pada periode hari raya yang baru saja berlalu," katanya, Rabu (31/7/2019).

Manajemen INDF optimistis terhadap hasil yang positif di sisa tahun ini dengan mempertahankan keunggulan kompetitif perseroan melalui peningkatan produktivitas dan pengendalian biaya.

Namun, penurunan harga minyak sawit yang terus berlanjut menjadi tantangan bagi lini usaha di bawah grup Salim yang bergerak di sektor perkebunan.

Senior Manager Research Analyst Kresna Sekuritas Robertus Yanuar Hardy menilai, secara umum penurunan yang terjadi untuk grup konglomerasi pada kuartal II/2019 karena tertekan penurunan harga komoditas dan hari kerja yang lebih sedikit.

“Pertumbuhan masih ada di jasa keuangan dan pertambangan mineral seperti emas dan nikel,” jelasnya.

Secara umum, grup konglomerasi juga menghadapi tantangan dari ekonomi global. Kondisi tersebut dipicu oleh perang dagang antara China dan Amerika Serikat serta perlambatan ekonomi Negeri Panda.

Senior Vice President PT Royal Investium Sekuritas Janson Nasrial menyebut kinerja keuangan Grup Astra masih terbantu oleh unit usaha, PT United Tractors Tbk. Entitas anak itu sudah melakukan diversifikasi usaha ke bisnis pertambangan emas.

Sebaliknya, dia memproyeksikan, harga batu bara masih cenderung stagnan dalam 2 tahun—3 tahun ke depan. Grup konglomerasi yang mengandalkan lini usaha tersebut, lanjutnya, masih menghadapi tantangan ke depan.

Di sektor properti, katanya hanya emiten yang menjual rumah di bawah Rp1 milar yang memiliki catatan kinerja yang baik. Hasil itu di antaranya dibukukan oleh PT Pakuwon Jati Tbk. dan PT Summarecon Agung Tbk.

SAHAM TERBAIK

Kepala Riset Infovesta Utama Wawan Hendrayana menilai, ICBP sebagai saham emiten yang terbaik (top picks) di Grup Salim. Entitas anak INDF itu, diuntungkan oleh harga bahan baku yang turun seiring dengan penguatan rupiah. Pada saat yang sama, penjualan produsen Indomie ini juga tercatat tumbuh dua digit.

Di Grup Sinarmas, analis menjadikan saham PT Bumi Serpong Damai Tbk. (BSDE) dan DMAS sebagai top picks.

Wawan menjelaskan, sektor properti dihujani sentimen positif, seperti penurunan suku bunga dan insentif pajak untuk segmen properti mewah. Katalis itu, katanya, bakal mendorong kinerja perseroan pada semester II/2019.

Direktur Investa Saran Mandiri Hans Kwee menjelaskan, sektor keuangan dari sisi perbankan telah menghadapi persaingan perebutan dana pihak ketiga dengan surat berharga negara. Selain itu, katanya, penarikan kredit dari perusahaan juga melambat.  (Azizah N. Alfi, Dwi N. Tari, M. Nurhadi Pratomo/Muhammad Ridwan/Duwi S. Ariyanti)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
emiten, kinerja emiten

Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top