Porsi Asing di SBN Indonesia Jadi Sorotan

Berdasarkan data Kementerian Keuangan dan IMF yang diolah Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, porsi kepemilikan asing atas SBN Indonesia mencapai sekitar 39 persen per Juni 2019. Porsi ini lebih tinggi dibanding kepemilikan asing pada Surat Utang Negara (SUN) Malaysia yang berada pada kisaran 23 persen.
Lalu Rahadian
Lalu Rahadian - Bisnis.com 30 Juli 2019  |  19:10 WIB
Porsi Asing di SBN Indonesia Jadi Sorotan
Ilustrasi-Karyawan memesan surat berharga negara Saving Bond Retail (SBR) seri SBR007 secara online, di Jakarta, Senin (15/7/2019). - Bisnis/Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA - Tingginya porsi kepemilikan asing dalam Surat Berharga Negara dinilai dapat berdampak negatif terhadap perekonomian Indonesia.

Berdasarkan data Kementerian Keuangan dan IMF yang diolah Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, porsi kepemilikan asing atas SBN Indonesia mencapai sekitar 39 persen per Juni 2019. Porsi ini lebih tinggi dibanding kepemilikan asing pada Surat Utang Negara (SUN) Malaysia yang berada pada kisaran 23 persen.

“Ini berpengaruh terhadap kerentanan perekonomian sebuah negara. Hal ini bisa berdampak salah satunya pada potensi pelemahan nilai tukar jika terjadi sudden capital outflow,” ujar Peneliti CORE Indonesia Yusuf Rendy pada diskusi Konsolidasi Domestik Pasca Pemilu di Tengah Tekanan Global, Jakarta, Selasa (30/7/2019).

SBN diterbitkan pemerintah untuk menutup defisit anggaran setiap tahun. Hingga Semester I/2019 pemerintah sudah mendapatkan pemasukan dari penerbitan SUN sebanyak Rp528,45 triliun.

Pemerintah tahun ini menargetkan pemasukan dari penerbitan SBN Rp825,7 triliun. Masih ada sejumlah SUN yang akan diterbitkan pemerintah untuk mengejar target itu.

Menurut Yusuf, ada 2 faktor yang membuat rendahnya porsi kepemilikan investor lokal terhadap SBN. Faktor pertama yakni rendahnya pengenalan masyarakat terhadap produk investasi seperti SUN.

“Sosialisasi terhadap produk-produk investasi dan pasar modal relatif harus digenjot kembali agar masyarakat umum bisa tahu bahwa ada produk lain yang bisa dimanfaatkan untuk mengatur keuangan, di luar tabungan dan asuransi,” katanya.

Faktor kedua adalah masalah likuiditas. Yusuf menilai saat ini ada perebutan likuiditas di pasar sehingga banyak investor yang akhirnya mengalokasikan uangnya untuk membeli SBN atau ke obligasi lain.

Tingginya porsi kepemilikan asing di SBN dapat berpengaruh terhadap pelemahan nilai tukar rupiah. Hal ini terjadi lantaran investor asing bisa saja menarik dan mengalihkan investasinya di SBN sewaktu-waktu saat ada SUN dari negara lain yang menawarkan yield lebih bagus.

“Yang jadi masalah ketika skenario kalau terjadi capital outflow dan di sisi lain misal pemerintah butuh penerbitan surat utang untuk tutup defisit anggaran. Kan mau enggak mau pemerintah harus tawarkan yield lebih menarik,” ujarnya.

Hingga 5 Juli 2019 jumlah kepemilikan investor asing dalam SBN menyentuh Rp1.000,39 triliun atau 39,27 persen. Adapun total outstanding SBN yang diperdagangkan mencapai Rp2.547,69 triliun.

Direktur Surat Utang Negara Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Loto Srianita Ginting sempat mengatakan pihaknya telah membuka banyak ruang agar investor domestik banyak membeli SBN. 

Loto berharap porsi kepemilikan asing atas SBN bisa turun, sedangkan SBN ritel domestik diharap dapat mencapai 9 hingga 10 persen.

“Tapi yang perlu diingat lagi kita perlu lihat struktur domestik seperti apa walaupun SBN lebih banyak diterbitkan ritel. Apakah ini [nilai SBN ritel] sudah mengkompensasi nilai yang dimiliki swasta, bank, yang secara struktural dimiliki asing? Kalau iya, ya tidak masalah,” tutur Yusuf.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
sbn

Editor : Saeno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top