SBN Dikuasai Asing, Investor Domestik Kalah Agresif

Direktur Surat Utang Negara Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Loto Srianita Ginting mengatakan investor domestik masih kalah agresif dibandingkan investor asing.
Muhamad Wildan
Muhamad Wildan - Bisnis.com 11 Juli 2019  |  17:35 WIB
SBN Dikuasai Asing, Investor Domestik Kalah Agresif
Direktur Surat Utang Negara (SUN) pada Ditjen Pengelolaan Pembiayaan dan Resiko Kemenkeu Loto S. Ginting memperlihatkan informasi tentang Savings Bond Ritel (SBR) seri SBR005 ketika peluncuran di Jakarta, Kamis (10/1/2019). - ANTARA/Wahyu Putro A

Bisnis.com, JAKARTA - Direktur Surat Utang Negara Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Loto Srianita Ginting mengatakan investor domestik masih kalah agresif dibandingkan investor asing.

Jumlah kepemilikan investor asing dalam surat berharga negara (SBN) menyentuh Rp1.000,39 triliun atau 39,27 persen dari SBN yang beredar per Jumat (5/7/2019).

Adapun total outstanding SBN yang dapat diperdagangkan mencapai Rp2.547,69 triliun.

Padahal, kata Loto, pihaknya telah membuka banyak ruang bagi investor domestik agar semakin banyak investor domestik yang masuk.

Ia berharap agar kepemilikan asing atas SBN bisa turun dari porsi sekarang yang hampir mencapai 40 persen, sedangkan SBN ritel domestik diharap dapat mencapai 9 persen-10 persen.

Meski demikian, Loto memandang tingginya minat investor asing mengindikasikan bahwa tingkat kepercayaan investor atas perekonomian Indonesia masih tinggi.

"Investor menanyakan apakah kita masih akan terbitkan global bond di tahun ini karena mereka tertarik," ujar Loto, Kamis (11/7/2019).

Di lain pihak, Dirjen DJPPR Kemenkeu Luky Alfirman mengungkapkan tingginya kepemilikan asing atas SBN disebabkan oleh adanya potensi penurunan suku bunga oleh bank sentral AS yaitu The Federal Reserve (The Fed) sehingga menimbulkan capital inflow menuju negara-negara emerging market termasuk Indonesia.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
surat utang negara

Editor : M. Taufikul Basari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top