Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

ECB Menahan Pelonggaran Moneter, Bursa Asia Melemah

Bursa saham Asia melemah pada perdagangan Jumat (26/7/2019) menyusul laporan kinerja  emiten AS yang beragam dan sikap Bank Sentral Eropa yang mengecewakan para investor yang telah memperkirakan pelonggaran moneter.
Aprianto Cahyo Nugroho
Aprianto Cahyo Nugroho - Bisnis.com 26 Juli 2019  |  15:47 WIB
bursa asia
bursa asia

Bisnis.com, JAKARTA – Bursa saham Asia melemah pada perdagangan Jumat (26/7/2019) menyusul laporan kinerja  emiten AS yang beragam dan sikap Bank Sentral Eropa yang mengecewakan para investor yang telah memperkirakan pelonggaran moneter.

Indeks MSCI Asia Pacific di luar Jepang turun 0,53 persen, sedangkan indeks Topix dan Nikkei 225 Jepang ditutup melemah masing-masing 0,4 dan 0,45 persen. Indeks Kospi ditutup melemah 0,4 persen.

Indeks Hang Seng Hong Kong ditutup melemah0,77 persen. Di sisi lain, indeks Shanghai Composite dan CSI 300 menguat masing-masing 0,24 persen dan 0,19 persen.

Saham Wall Street jatuh dari rekor tertinggi pada hari Kamis, dengan indeks S&P 500 melemah 0,53 persen menyusul laporan kinerja Ford Motor dan perusahaan lain yang mengecewakan.

Tetapi sejumlah emiten lain yang merilis laporan keuangan setelah pasar tutup pada Kamis umumnya mengalahkan ekspektasi, dan saham mereka menguat setelah penutupan jam perdagangan resmi.

Saham induk Google, Alphabet Inc, melonjak 7,9 persen, Intel Corp 5,1 naik persen, dan Starbucks menguat 6,6 persen. Di sisi lain, saham Amazon turun 1,6 persen karena mencatat laba di bawah ekspektasi.

"Beberapa produsen barang modal telah melaporkan laba yang lesu, tetapi sebaliknya pendapatan emiten AS umumnya baik, sebagian karena investor telah menurunkan ekspektasi mereka," kata Hitoshi Asaoka, analis senior di Asset Management One, seperti dikutip Reuters.

"Namun, dengan bursa saham AS sudah mencapai rekor, kenaikan lebih lanjut kemungkinan akan terbatas kecuali kita melihat tanda-tanda pemulihan permintaan global yang lebih jelas," katanya.

Ketidakpastian mengenai apakah Washington dan Beijing akan dapat menyelesaikan perbedaan atas perdagangan, teknologi, dan bahkan ambisi geopolitik, membuat banyak investor waspada. Negosiator dari kedua belah pihak akan bertemu di Shanghai pekan depan.

Reli obligasi global terhenti setelah Presiden Bank Sentral Eropa (European Central Bank/ECB) Mario Draghi memperingatkan untuk tidak melakukan pelonggaran kebijakan terlalu cepat, meskipun ia berjanji untuk melonggarkan kebijakan moneter lebih lanjut karena prospek pertumbuhan memburuk.

Banyak pelaku pasar kecewa karena mengira Draghi akan memangkas suku bunga pada hari Kamis. Pejabat ECB mengatakan kepada Reuters setelah pertemuan bahwa penurunan suku bunga kemungkinan besar dilakukan pada bulan September.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Bursa Asia
Editor : Mia Chitra Dinisari
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top