Diterpa Sentimen Global, Rupiah Terlemah Kedua di Asia

Berdasarkan data Bloomberg, pada perdagangan Rabu (17/7/2019), rupiah ditutup di level Rp13.983 per dolar AS, menguat 0,34% atau 48 poin.
Finna U. Ulfah
Finna U. Ulfah - Bisnis.com 17 Juli 2019  |  17:02 WIB
Diterpa Sentimen Global, Rupiah Terlemah Kedua di Asia
Karyawan menata uang rupiah di Cash Center Bank BNI di Jakarta, Rabu (10/7/2019). - Bisnis/Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA – Keperkasaan mata uang Garuda mulai pudar seiring dengan ditutupnya rupiah di zona merah pada perdagangan Rabu (17/7/2019) akibat diterpa data penjualan ritel AS yang berhasil dirilis positif.

Berdasarkan data Bloomberg, pada perdagangan Rabu (17/7/2019), rupiah ditutup di level Rp13.983 per dolar AS, melemah 0,34% atau 48 poin. Setelah sempat memimpin penguatan mata uang Asia, kini rupiah justru menjadi mata uang dengan kinerja terlemah kedua di antara mata uang Asia lainnya.

Sementara itu, indeks dolar As yang mengukur kekuatan greenback di hadapan sekeranjang mata uang mayor lainnya bergerak melemah tipis 0,05% di level 97,346.

Adapun, data penjualan ritel AS periode Juni berhasil dirilis lebih baik daripada perkiraan pasar, tumbuh 0,4% dibandingkan dengan proyeksi pasar sebesar 0,2%.

Direktur Utama PT Garuda Berjangka Ibrahim mengatakan bahwa hal tersebut menjadi sentimen positif bagi dolar AS sehingga melemahkan rupiah.

“Dalam transaksi hari ini rupiah ditutup melemah karena faktor global yang kuat,” ujar Ibrahim seperti dikutip dari keterangan resminya, Rabu (17/7/2019).

Dalam rapat kabinet di Gedung Putih yang digelar Selasa (16/7), Presiden AS Donald Trump menekankan bahwa AS dapat mengenakan bea masuk baru bagi produk impor asal China senilai US$325 miliar jika diperlukan.

Komentar tersebut datang setelah Menteri Keuangan AS Steven Mnuchin menebar optimisme bahwa delegasi AS bisa menyambangi China dalam waktu dekat guna menggelar negosiasi dagang.

Sementara itu, Ketua The Fed Jerome Powell kembali menegaskan bahwa Bank Sentral AS akan terus memantau perkembangan dengan hati hati terkait dengan risiko penurunan pertumbuhan di AS dan akan bertindak sesuai dengan yang diperlukan untuk mempertahankan ekspansi.

Selain itu, Ibrahim mengatakan bahwa pasar saat ini tengah menantikan hasil kesepakatan Bank Indonesia dalam rapat dewan gubernur (RDG) terkait dengan pemangkasan suku bunga.

Konsensus pasar memperkirakan Bank Indonesia menurunkan BI 7 Day Reverse Repo Rate sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 5,75%. Dari 14 institusi yang berpartisipasi dalam pembentukan konsensus, hanya dua institusi yang memperkirakan suku bunga acuan masih bertahan di 6%.

“Akan tetapi, BI sudah beberapa kali mengecewakan pelaku pasar yang dalam beberapa bulan terakhir masih tetap mempertahankan suku bunga acuan. Hal ini dikarenakan posisi Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) masih dianggap cukup untuk dapat menopang kinerja rupiah,” papar Ibrahim.

Ibrahim memprediksi rupiah akan bergerak di kisaran Rp13.905 per dolar AS hingga Rp14.015 per dolar AS.

Senada, Kepala Riset dan Edukasi PT Monex Investindo Futures Ariston Tjendra mengatakan bahwa rupiah masih akan diperdagangkan di zona merah menanti hasil keputusan RDG Bank Indonesia dan sentimen data ritel AS.

“Kemungkinan rupiah besok akan diperdagangkan di level Rp13.930 per dolar AS hingga Rp14.100 per dolar AS,” ujar Ariston kepada Bisnis.com.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
kurs, Rupiah

Editor : Ana Noviani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top