Data Ekonomi China Positif, Bursa Asia Menguat

Bursa saham Asia menguat pada perdagangan Senin (15/7/2019) karena investor menyambut data ekonomi China yang terlihat mulai stabil berkat meningkatnya stimulus dari pemerintah.
Aprianto Cahyo Nugroho
Aprianto Cahyo Nugroho - Bisnis.com 15 Juli 2019  |  15:17 WIB
Data Ekonomi China Positif, Bursa Asia Menguat
Bursa MSCI Asia - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA – Bursa saham Asia menguat pada perdagangan Senin (15/7/2019) karena investor menyambut data ekonomi China yang terlihat mulai stabil berkat meningkatnya stimulus dari pemerintah.

Laporan Biro Statistik Nasional China (NBS) pada Senin (15/7/2019) mengungkapkan produk domestik bruto (PDB) China naik 6,2 persen pada kuartal II/2019 dari tahun sebelumnya.

Meski lebih rendah dari perolehan pada kuartal I/2019 yakni 6,4 persen, PDB kuartal II sejalan dengan yang diperkirakan oleh para ekonom.

Di sisi lain, raihan sejumlah indikator aktivitas ekonomi tampak kuat bahkan melampaui estimasi. Output pabrik meningkat 6,3 persen dan penjualan ritel menanjak 9,8 persen pada Juni, sedangkan investasi naik 5,8 persen pada paruh pertama tahun ini.

 Pasar saham bergejolak di tengah data China karena beberapa pihak memperkirakan Beijing akan melemahkan stimulus lebih lanjut.

Indeks MSCI Asia Pasifik di luar Jepang membalikkan pelemahan sebelumnya dan menguat 0,2 persen, setelah melemah lebih dari 1 persen sepanjang pekan lalu sekaligus mengakhiri kenaikan lima minggu berturut-turut.

Volume perdagangan cenderung tipis hari ini karena bursa saham Jepang menyusul libur nasional.  Indeks Shanghai Composite dan CSI 300 China berbalik menguat 0,4 persen dan 0,41 persen setelah melemah sebelum rilis data ekonomi.

Sementara itu, indeks Hang Seng menguat 0,24 persen, indeks Kospi Korea Selatan melemah 0,2 persen, sedangkan IHSG menguat 0,87 persen pada pukul 14.46 WIB.

"Investor mungkin mengurangi ekspektasi pelonggaran pada data hari ini karena langkah-langkah fiskal tampaknya bekerja," kata analis Westpac, Frances Cheung, seperti dikutip Reuters.

"Karena itu, kami percaya PBoC masih akan mendukung likuiditas. Imbal hasil diperkirakan akan stabil dan setiap penurunan sementara akan diekspresikan melalui swap," lanjutnya.

Data penjualan ritel dan produksi industri AS yang juga dirilis pekan ini akan memberikan petunjuk tentang kesehatan ekonomi negara tersebut. Federal Reserve AS akan merilis 'Beige Book' pada hari Rabu dan investor akan mencari petunjuk mengenai bagaimana ketegangan perdagangan mempengaruhi prospek bisnis.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Bursa Asia

Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top