Petani Jagung AS Terancam Merugi Akibat Hujan Lebat

Gangguan cuaca di Amerika Serikat, produsen jagung terbesar di dunia telah membuat para petani tanaman tersebut gigit jari.
Dika Irawan
Dika Irawan - Bisnis.com 17 Juni 2019  |  14:45 WIB
Petani Jagung AS Terancam Merugi Akibat Hujan Lebat
Jagung dimasukkan ke truk saat silo kosong di sebuah peternakan di Tiskilwa, Illinois, AS, 6 Juli 2018. - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA – Gangguan cuaca di Amerika Serikat, produsen jagung terbesar di dunia telah membuat para petani tanaman tersebut gigit jari.

Lusinan petani jagung dan mereka yang menjual benih, bahan kimia, dan peralatan pertanian berkumpul di restoran di Deer Grove, Illiniois, Kamis (13/6/2019), usai hujan lebat menyebabkan keterlambatan penanaman. Kondisi yang belum pernah terjadi sebelumnya pada tahun ini.

James McCune, misalnya, petani dari Mineral, Illinois, tidak dapat menanam 85% jagung. Dia lantas ingin bersimpati dengan rekan-rekan petani yang mengalami nasib serupa, dengan menjadi tuan rumah Prevent Plant Party di The Happy Spot. Dalam pertemuan itu, dia mengundang para petani untuk bertukar cerita mengenai kondisi pertanian terkini. “Semua orang begitu terpuruk [akibat cuaca],” katanya.

McCune telah mengembalikan benih jagungnya yang tidak terpakai ke dealer lokal untuk Pioneer, bagian dari Corteva Inc, setelah hanya menanam 900 hektar jagung dari 6.000 hektar yang direncanakannya.

Menurut Gro Inteligence, Biro County, Illinois, tempat McCune tinggal, memiliki risiko tertinggi keempat dari semua negara di AS untuk tanaman jagung karena hujan lebat, di belakang di Nebraska.

Departemen Pertanian AS melaporkan, secara nasional para petani jagung diperkirakan memungut hasil panen terkecil dalam 4 tahun terakhir. Pekan lalu, badan itu pun mengurangi estimasi penanamannya sebesar 3,2% dari Mei dan estimasi hasilnya sebesar 5,7%.

Hujan badai telah berkontribusi menyebabkan banjir di seluruh bagian tengah Amerika Serikat. Akibatnya jutaan hektare lahan pertanian tidak dapat disebari benih.  Selain itu, hujan juga membuat tanaman yang telah ditanam berada dalam risiko kerusakan.

Perkiraan hujan lebat, telah mendorong harga jagung berjangka AS berada di level tertingginya dalam 5 tahun terakhir. Meski lebih sedikit petani akan memperoleh keuntungan dari kenaikan harga karena gangguan penanaman tersebut.

Berdasarkan data Bloomberg, hingga pukul 11.23 WIB, harga jagung kontrak pengiriman Desember 2019 di Chicago Board of Trade tumbuh naik 1,73% atau 8,00 poin ke level US$471,50 per gantang.

Hasil itu sekaligus menempatkan jagung berada di level tertinggi dalam 5 tahun terakhir. Terakhir harga jagung berada di level terkuatnya pada 20 Juni 2015, ketika itu di angka US$452,00 per gantang.

Selain jagung, harga gandum dan kedelai juga ikut merangkak. Sama halnya dengan jagung, kedua komoditas itu juga merupakan andalan sektor pertanian AS.

Berdasarkan data Bloomberg, hingga pukul 11.32 WIB, harga gandum kontrak September 2019 di Chicago Board of Trade telah menguat 0,83% atau 4,50 poin ke level US$546,50 per gantang. Sedangkan harga kedelai kontrak pengiriman November 2019 di CBOG menguat 1,65% atau 15,25 poin ke level US$938,75 per gantang.

Bersamaan dengan itu, masalah-masalah lain juga menghantui sektor pertanian AS. Salah satunya perang dagang antara AS dan China, yang telah memperlambat ekspor produk agrikultur Negeri Paman Sam.  

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
amerika serikat, harga jagung

Editor : Riendy Astria

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top
Tutup