Data China Bebani Emerging Market, IHSG Turun Lagi

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun ke level penutupan terendahnya dalam dua pekan pada perdagangan hari ini, Jumat (14/6/2019).
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 14 Juni 2019  |  17:04 WIB
Data China Bebani Emerging Market, IHSG Turun Lagi
Karyawan melintas di dekat monitor Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Selasa (16/10/2018). - Bisnis/Nurul Hidayat

Bisnis.com, JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun ke level penutupan terendahnya dalam dua pekan pada perdagangan hari ini, Jumat (14/6/2019).

Berdasarkan data Bloomberg, IHSG ditutup melemah 0,36 persen atau 22,82 poin di level 6.250,27 dari level penutupan perdagangan sebelumnya. Pada perdagangan Kamis (13/6), IHSG terkoreksi tipis 0,05 persen atau 3,09 poin dan berakhir di posisi 6.273,08.

Sebelum melanjutkan penurunannya, indeks sempat berbalik ke zona hijau dengan dibuka naik 0,08 persen atau 4,94 poin di level 6.278,03 pagi tadi.

Level penutupan yang dibukukan IHSG hari ini adalah yang terendah sejak 31 Mei sekaligus penurunan hari ketiga berturut-turut. Sepanjang perdagangan hari ini, IHSG bergerak di level 6.234,99 – 6.294,65.

Sebanyak tujuh dari sembilan sektor berakhir di wilayah negatif, dipimpin properti (-1,48 persen) dan aneka industri (-0,93 persen). Adapun sektor pertanian dan perdagangan masing-masing naik 0,21 persen dan 0,07 persen.

Dari 634 saham yang diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia (BEI) hari ini, sebanyak 175 saham menguat, 230 saham melemah, dan 229 saham stagnan.

Saham PT Bank Mega Tbk. (MEGA) dan PT HM Sampoerna Tbk. (HMSP) yang masing-masing turun 14,29 persen dan 1,18 persen menjadi penekan utama pergerakan IHSG di akhir perdagangan.

Di sisi lain, saham PT Bank Mayapada Internasional Tbk. (MAYA) dan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) yang masing-masing naik 19,60 persen dan 0,71 persen menahan besarnya pelemahan IHSG.

Indeks saham lainnya di Asia mayoritas cenderung ditutup di zona merah, di antaranya indeks Kospi Korea Selatan yang berakhir turun 0,37 persen.

Indeks Shanghai Composite dan CSI 300 China masing-masing melemah 0,99 persen dan 0,83 persen, sedangkan indeks Hang Seng Hong Kong berakhir turun 0,65 persen.

Meski demikian, indeks Topix dan Nikkei 225 Jepang mampu ditutup di wilayah positif masing-masing dengan kenaikan 0,34 persen dan 0,4 persen.

Secara keseluruhan, bursa emerging market melemah pada perdagangan sore ini ketika sentimen untuk aset berisiko dibatasi oleh rilis data produksi industri China.

Pertumbuhan output industri China dilaporkan melambat ke laju terlemah sejak 2002. Hal ini menyoroti tantangan yang dihadapi ekonomi saat ini di tengah pergulatan dengan perang tarif dengan AS.

Berdasarkan data National Burreau of Statistics, output industri naik 5 persen pada bulan Mei dibandingkan tahun sebelumnya, lebih rendah dari estimasi sebesar 5,4 persen, seperti dilansir dari Bloomberg.

Pemerintah dan bank sentral China telah meluncurkan berbagai langkah yang ditargetkan untuk mendorong pengeluaran infrastruktur, mendukung pertumbuhan kredit, memotong pajak dan meningkatkan konsumsi, tetapi sejauh ini menghindari rencana stimulus besar-besaran seperti sebelumnya.

“Selalu ada dampak langsung mengenai apakah data China akan memberi kejutan ke bawah atau ke atas, saat ini kami melihat data [ekonomi] terdampak oleh perang perdagangan,” terang Analis FX Monex Europe Simon Harvey, seperti dikutip dari Reuters.

Indeks MSCI untuk negara berkembang turun 0,4 persen, terbebani pelemahan bursa saham China, diikuti oleh pelemahan mata uang MSCI emerging market.

Nilai tukar yuan onshore China pun melemah dan bergerak menuju pelemahan mingguan keenam dalam tujuh pekan terakhir.

“Saya yakin pelemahan yuan dapat membantu peningkatan pertumbuhan dalam beberapa bulan ke depan, dengan latar belakang pelonggaran kondisi keuangan yang diperkirakan akan terjadi di negara berekonomi terbesar kedua di dunia itu,” tanbah Harvey.

Sejalan dengan IHSG, indeks Bisnis-27 lanjut berakhir melemah 0,42 persen atau 2,32 poin di level 549,72 hari ini, setelah ditutup turun 0,27 persen atau 1,51 poin di posisi 552,03 pada Kamis (13/6).

Aksi jual bersih pun berlanjut untuk hari ketiga berturut-turut. Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), investor asing mencatatkan aksi jual bersih (net sell) senilai Rp64,03 miliar pada perdagangan hari ini.

Adapun nilai tukar rupiah berakhir melemah 45 poin atau 0,32 persen ke level Rp14.2325 per dolar AS, pelemahan hari ketiga berturut-turut. Rupiah memimpin pelemahan mata uang di Asia bersama rupee India yang turun 0,3 persen terhadap dolar AS pukul 16.25 WIB.

Saham-saham penekan IHSG:

 Kode

Penurunan (persen)

MEGA

-14,29

HMSP

-1,18

CPIN

-5,05

ASII

-1,00

Saham-saham pendorong IHSG:

Kode

Kenaikan (persen)

MAYA

+19,60

BBRI

+0,71

KLBF

+3,82

BRPT

+3,64

Sumber: Bloomberg

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
IHSG

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top