Perang Dagang Berlanjut, China Tunda Pembelian Kedelai AS

Para produsen kedelai AS belum menerima lanjutan pesanan dari China setelah perang dagang kedua negara berlanjut.
Finna U. Ulfah
Finna U. Ulfah - Bisnis.com 30 Mei 2019  |  17:48 WIB
Perang Dagang Berlanjut, China Tunda Pembelian Kedelai AS
Kedelai. - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA -- China, importir kedelai terbesar di dunia, telah menunda pembelian pasokan kedelai dari AS seiring dengan eskalasi perang dagang antara kedua negara sejak sebulan lalu.

Seperti dilansir dari Bloomberg, Kamis (30/5/2019), sejak Presiden AS Donald Trump menaikkan tarif impor 25 persen untuk produk China senilai US$200 miliar pada awal Mei 2019, produsen kedelai AS belum menerima pesanan lagi dari para pembelinya di China. Namun, sejak tarif tersebut berlaku, China juga belum memiliki rencana untuk membatalkan pembelian kedelai dari AS yang telah dalam pengiriman.

Berdasarkan data Pemerintah AS, China telah membeli sekitar 13 juta metrik ton kedelai AS sejak kedua negara tersebut sepakat untuk melakukan negosiasi perdagangan. Langkah tersebut menjadi petunjuk niat baik kedua negara agar dapat menyelesaikan sengketa perdagangan.

Sementara itu, pada Februari 2019, Menteri Pertanian AS Sonny Perdue mengatakan China telah berjanji untuk melanjutkan pembelian dan akan membeli sebanyak 10 juta ton kedelai AS.

Adapun pemerintahan Presiden AS Donald Trump dilaporkan tengah mempertimbangkan pembelian kedelai secara langsung dari petani senilai US$2 per gantang, sebagai bagian dari paket bantuan untuk mengurangi kerugian akibat perang dagang dengan China. Total paket bantuan baru tersebut senilai US$16 miliar, melebihi bantuan yang diluncurkan tahun lalu kepada para petani, yang sebesar US$12 miliar.

Matt Conelly, analis di Hightower Report Chicago, mengatakan bantuan untuk kedelai tersebut cukup menarik bagi petani. Mereka kemungkinan mencoba mendapatkan lahan seluas mungkin untuk kedelai dengan mengorbankan tanaman jagung.

 “Mereka [petani] melihat bantuan US$2 per gantang dan hal tersebut membujuk mereka untuk menanam kedelai,” ujarnya seperti dikutip dari Reuters, Kamis (30/5).

Sebagai informasi, pada 2017, China telah membeli sekitar 60 persen ekspor kedelai AS. Namun, pembelian itu terhenti pada tahun lalu ketika Trump menjatuhkan sanksi untuk barang-barang dari Negeri Panda.

Keputusan tersebut kemudian menimbulkan balasan dari China, berupa kenaikan tarif impor untuk kedelai, daging babi, jagung, dan produk-produk lain yang dihasilkan Negeri Paman Sam.

Di sisi lain, pada perdagangan Kamis (30/5) pukul 16.00 WIB, harga kedelai untuk kontrak Juli 2019 di bursa CBOT bergerak  melemah 0,83 persen menjadi US$864,75 per gantang.
 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
kedelai, perang dagang AS vs China

Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top
Tutup