Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Kantongi Laba Rp11,6 Triliun, Tapi Semua Dipakai PLN untuk Investasi

Direktur Pengadaan Strategis I Perusahaan Listrik Negara Djoko Rahardjo Abu Manan mengklaim perseroan membukukan kenaikan penjualan secara tahunan pada 2018.
M. Nurhadi Pratomo
M. Nurhadi Pratomo - Bisnis.com 29 Mei 2019  |  11:43 WIB
Teknisi memasang jaringan kelistrikan baru di Makassar, Sulawesi Selatan, Kamis (21/2/2019). - Bisnis/Paulus Tandi Bone
Teknisi memasang jaringan kelistrikan baru di Makassar, Sulawesi Selatan, Kamis (21/2/2019). - Bisnis/Paulus Tandi Bone

Bisnis.com, JAKARTA — PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) menggunakan laba bersih yang dikantongi senilai Rp11,6 triliun sebagai saldo laba ditahan untuk kebutuhan investasi perseroan.

Plt. Direktur Utama Perusahaan Listrik Negara Djoko Rahardjo Abu Manan mengklaim perseroan membukukan kenaikan penjualan secara tahunan pada 2018. Akan tetapi, jumlah yang dibukukan masih belum seperti diharapkan dalam rencana usaha penyediaan tenaga listrik (RUPTL).

Dia menyebut perseroan berhasil membukukan laba bersih Rp11,6 triliun pada 2018. Pencapaian itu naik dibandingkan dengan periode 2017.

Dari situ, Djoko menyebut PLN tidak memberikan setoran dividen ke negara. Pasalnya, perseroan membutuhkan dana untuk investasi.

“Dividen [ke negara] Rp 0, karena kita butuh untuk investasi. PLN investasi satu tahun butuh sekitar Rp100 triliun,” ujarnya di Kementerian BUMN, Rabu (29/5/2019).

Dia menyebut untuk kebutuhan investasi perseroan memiliki fasilitas pinjaman senilai Rp60 triliun. Akan tetapi, menurutnya masih dibutuhkan tambahan termasuk dari laba bersih perseroan periode 2018.

Baca Juga : Harga Emas Hari Ini

BELANJA MODAL

Diberitakan Bisnis sebelumnya, Direktur Keuangan PT PLN Sarwono mengungkapkan perseroan menganggarkan belanja modal sekitar Rp80 triliun hingga Rp90 triliun pada 2019. Separuh dari kebutuhan tersebut rencananya akan dipenuhi melalui fund raising atau penggalangan dana.

Fund raising sekitar Rp40 triliun hingga Rp50 triliun,” ujarnya.

Sarwono mengatakan 50% dari kebutuhan belanja modal digunakan untuk investasi pembangkit. Sisanya atau sebesar 50% digunakan untuk pengembangan transmisi dan distribusi.

Dia menjelaskan bahwa biasanya pendanaan dengan mata uang rupiah akan digunakan berinvestasi di proyek transmisi. Sementara itu, pendanaan dalam mata uang asing akan digunakan untuk pengembangan transmisi.

Terkait dengan penerbitan global bond atau obligasi global, Sarwono menyebut instrumen itu menjadi salah satu alternatif pendanaan. Pihaknya mengatakan tidak terpaku hanya kepada satu instrumen.

“Pilihan kami cukup banyak. Tidak terpaku kepada satu instrumen,” jelasnya.

Dia mengungkapkan perseroan juga memiliki opsi pinjaman perbankan baik lokal maupun global. Menurutnya, standby loan yang dimiliki mencapai Rp25 triliun.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

PLN
Editor : M. Taufikul Basari
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top