Performa Dua Komoditas Andalan Indonesia, Mana yang Terlemah?

Dua harga komoditas unggulan Indonesia yakni minyak kelapa sawit dan karet alam melemah pada perdagangan Kamis (23/5/2019).
Dika Irawan
Dika Irawan - Bisnis.com 23 Mei 2019  |  17:51 WIB
Performa Dua Komoditas Andalan Indonesia, Mana yang Terlemah?
Pekerja membongkar muatan kelapa sawit dari truk di Salak Tinggi, di luar Kuala Lumpur, Malaysia. - Reuters/Samsul Said

Bisnis.com, JAKARTA – Dua harga komoditas unggulan Indonesia yakni minyak kelapa sawit dan karet alam melemah pada perdagangan Kamis (23/5/2019).

Berdasarkan data Bloomberg, hingga pukul 15:10 WIB, harga minyak kelapa sawit (crude palm oil) kontrak pengiriman Agustus 2019 di Bursa Derivatif Malaysia melemah 1,46% atau 30 poin ke level 2.027 ringgit per ton.  Hasil ini melanjutkan pelemahan 0,83% atau 17 poin di level 2.040 ringgit per ton di sesi pembukaan.

Namun, pada perdagangan Selasa (21/5), harga CPO sempat bertengger di level 2.108 atau menguat 0,48%. Akan tetapi setelah itu kembali ke zona merah, hingga hari ini. Jika dilihat sejak awal tahun, harga CPO juga sudah melemah 1%.

Mengenai harga karet, pada perdagangan hari ini pun terlihat loyo. Berdasarkan data Bloomberg, harga karet kontrak Oktober 2019 di Tokyo Commodity Exchange (Tocom), terpantau melemah 0,42% atau 0,80 poin di level 190,00 yen per kilogram. Pencapaian itu sekaligus meneruskan pelemahan pada sesi pembukaan sebesar 0,21% atau 0,40 poin ke posisi 190,40 yen per ton.

Sepanjang pekan ini, harga karet sempat berada di level 194,30 yen per ton, Selasa (21/5/2019). Akan tetapi level tersebut hanya bertahan sehari, setelah itu harga karet cenderung melemah.

Bila dilihat sejak awal tahun, harga karet alam masih menguat 20,35%. Setidaknya lebih baik dibandingkan dengan harga CPO.

Lalu, sentimen apa saja yang mempengaruhi kedua komoditas tersebut?

Bagi sawit, pelemahan harga dipengaruhi oleh harga minyak kedelai yang lebih rendah, juga karena publikasi Uni Eropa (UE) tentang batasan penggunaan minyak tropis dalam biofuel pada bulan depan.

Baru-baru ini, UE mengumumkan regulasi yang menerapkan kriteria baru tentang penggunaan sawit dalam biofuel. Aturan tersebut akan memiliki sistem sertifikasi dan pembatasan jenis biofuel dari minyak sawit. Hal itu merupakan bagian dari energi terbarukan UE, yang akan berlaku pada 10 Juni mendatang.

Anilkumar Bagani, Kepala Penelitian Sunvin Group mengatakan bahwa berita tersebut menghajar harga kelapa sawit berjangka. Selain itu, harga sawit juga terbebani oleh harga minyak kedelai yang lebih lemah.

“[Dalam situasi ini] harga sawit bisa turun ke level sekitar 1.940 ringgit per ton,” katanya dikutip dari Bloomberg, Kamis (23/5/2019).

Sementara itu, harga karet alam melemah di tengah ekspektasi hujan deras akan mengurangi kekeringan di salah satu daerah penghasil karet utama China. Selain itu, hujan dengan intensitas serupa juga akan terjadi di Thailand, produsen karet terbesar di dunia.

Gu Jiong, analis di Yutaka Shoji, broker di Tokyo mengatakan, perkiraan cuaca tersebut memberikan tekanan pada harga karet. Sebab cuaca yang bersahabat berpotensi meningkatkan produksi karet.

“Di samping itu, penurunan minyak mentah juga menjadi bearish [bagi harga karet].”

Data Bloomberg menunjukkan, hingga pukul 16:33 WIB, harga minyak mentah West Texas Intermediate melemah 0,90% atau 0,55 poin ke level US$60,87 per barel. Sementara, harga minyak Brent melemah 1,06% atau 0,75 poin ke level US$70,24 per barel.

Sebagai informasi, harga minyak mentah seringkali mempengaruhi harga karet alam, karena menghasilkan produk turunan polimer yang merupakan bahan baku karet sintetis.

Adapun harga karet itu dipengaruhi oleh bahan baku utamanya yaitu minyak mentah. Jika harga minyak global naik, maka menekan biaya pembuatannya.  Hal ini bakal mempengaruhi permintaan karet alam. Mengingat karet sintetis merupakan subtitusi dari karet alam.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
komoditas, harga karet, kelapa sawit

Editor : Farodilah Muqoddam

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top