Jokowi Menang Pilpres, IHSG Tambah Kekar

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil melanjutkan penguatannya pada perdagangan hari kedua berturut-turut, Selasa (21/5/2019), pascapengumuman hasil rekapitulasi suara Pilpres 2019 oleh KPU.
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 21 Mei 2019  |  16:58 WIB
Jokowi Menang Pilpres, IHSG Tambah Kekar
Karyawan melintas di dekat papan elektronik yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (18/2/2019). - Bisnis/Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil melanjutkan penguatannya pada perdagangan hari kedua berturut-turut, Selasa (21/5/2019), pascapengumuman hasil rekapitulasi suara Pilpres 2019 oleh KPU.

Berdasarkan data Bloomberg, IHSG ditutup menguat 0,75 persen atau 44,25 poin di level 5.951,37 dari level penutupan perdagangan sebelumnya. Pada perdagangan Senin (20/5), IHSG berakhir menanjak 1,38 persen atau 80,25 poin di level 5.907,12.

Penguatan IHSG mulai berlanjut dengan dibuka naik 0,31 persen atau 18,29 poin di level 5.925,42 pagi tadi. Sepanjang perdagangan hari ini, IHSG konsisten bergerak positif di level 5.925,42 – 5.996,54.

Menurut Jeffrosenberg Tan, seorang pakar strategi di Sinarmas Sekuritas, investor lokal mendorong penguatan pasar saham hari ini setelah merespons positif pengumuman hasil rekapitulasi Pilres 2019.

Komisi Pemilihan Umum (KPU) telah resmi menetapkan perolehan suara sah pasangan nomor urut 01, Jokowi-Ma’ruf unggul atas Pasangan Prabowo-Sandi.

Berdasarkan hasil Pemilu 2019 yang ditetapkan KPU RI, Jokowi-Ma'ruf dinyatakan menang setelah meraih 85.607.362 suara atau 55,50 persen, unggul 16.957.123 atau 11 persen dari Prabowo-Sandi yang mendapatkan 68.650.239 suara atau 45,50 persen.

“Konfirmasi positif atas hasil pemilu telah berkontribusi pada kenaikan [IHSG], sementara sebagian investor menemukan valuasi yang menarik,” terang Jeffrosenberg Tan, seperti dikutip Bloomberg.

“Kami telah merekomendasikan klien untuk mulai membeli saham-saham Indonesia sejak kemarin [Senin, 20/5] karena kami pikir pasar telah oversold [jenuh jual],” tambahnya.

Seluruh sembilan sektor pada perdagangan hari ini berakhir di wilayah positif, dipimpin properti (+1,48 persen), aneka industri (+1,46 persen), dan pertanian (+1,10 persen).

Dari 633 saham yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI), sebanyak 243 saham menguat, 155 saham melemah, dan 235 saham stagnan.

Saham PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) dan PT Astra International Tbk. (ASII) yang masing-masing naik 1,49 persen dan 1,45 persen menjadi pendorong utama penguatan IHSG hari ini.

Sejalan dengan IHSG, indeks Bisnis-27 berakhir menguat 0,75 persen atau 3,84 poin di level 514,79, penguatan hari kedua berturut-turut.

Meski demikian, aksi jual bersih oleh investor asing masih mengalir untuk hari kesepuluh beruntun. Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), investor asing mencatatkan aksi jual bersih (net sell) senilai Rp643,13 miliar pada perdagangan hari ini.

Adapun nilai tukar rupiah lanjut ditutup melemah 25 poin atau 0,17 persen ke level Rp14.480 per dolar AS, pelemahan hari kedua berturut-turut.

“Risiko keamanan pascapemilu tetap membuat investor gelisah mengenai aset-aset Indonesia,” ujar Jemmy Paul, CEO Sucorinvest Asset Management.

Sementara itu, indeks saham lainnya di Asia cenderung berakhir variatif. Indeks Topix dan Nikkei 225 Jepang masing-masing ditutup turun 0,30 persen dan 0,14 persen.

Namun di China, dua indeks saham acuannya Shanghai Composite dan CSI 300, mampu bangkit dari pelemahannya untuk berakhir menanjak 1,23 persen dan 1,35 persen masing-masing.

Secara keseluruhan, pasar saham global bergerak lebih kuat setelah pemerintah AS memberikan kelonggaran bagi para konsumen dan operator yang menggunakan produk-produk Huawei Technologies.

Bursa saham di China membukukan kenaikan terkuat di Asia, sedangkan bursa Jepang berakhir di posisi lebih rendah.  

Di Korea Selatan, kenaikan saham Samsung Electronics Co. membantu mendongkrak pasar saham Negeri Ginseng, ditopang spekulasi manfaat yang bakal diperoleh raksasa elektronik Korsel ini dari kebutuhan Huawei untuk beralih dari pemasok-pemasoknya di AS.

“Negara G-10 yakini bahwa segala sesuatunya dapat diperbaiki. Inilah yang dikatakan oleh para ekonom, sehingga mereka tidak melihat alasan untuk panik,” ujar Sebastien Galy, pakar strategi makro senior di Nordea Investment Funds SA di Luxembourg.

“Volatilitas akan tetap ada, meskipun tidak harus berarti bahwa pergerakan ekuitas selalu turun, sambil menunggu kejelasan perundingan AS-China sebelum pertemuan G-20 bulan depan,” lanjutnya.

Saham-saham pendorong IHSG:

Kode

Kenaikan (persen)

BBCA

+1,49

ASII

+1,45

BBNI

+2,08

ICBP

+2,67

Saham-saham penekan IHSG:

 Kode

Penurunan (persen)

CPIN

-3,71

SMGR

-3,78

FIRE

-9,59

MAYA

-3,45

Sumber: Bloomberg

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
IHSG, Pilpres 2019

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top