Kekhawatiran Perdagangan Mereda, Bursa Asia Rebound dari Level Terendah 3,5 Bulan

Bursa saham Asia rebound dari level terendah dalam 3,5 bulan terakhir pada perdagangan Rabu (15/5/2019) menyusul perubahan retorika Presiden AS Donald Trump.
Aprianto Cahyo Nugroho
Aprianto Cahyo Nugroho - Bisnis.com 15 Mei 2019  |  17:01 WIB
Kekhawatiran Perdagangan Mereda, Bursa Asia Rebound dari Level Terendah 3,5 Bulan
bursa asia

Bisnis.com, JAKARTA – Bursa saham Asia rebound dari level terendah dalam 3,5 bulan terakhir pada perdagangan Rabu (15/5/2019) menyusul perubahan retorika Presiden AS Donald Trump.

Perubahan ini meredakan kekhawatiran investor terhadap tentang tarif AS-China. Selain itu, sentimen juga datang dari harapan bahwa China bisa mengungkap lebih banyak stimulus ekonomi.

Indeks MSCI Asia Pacific di luar Jepang menguat 0,6 persen. Indeks telah jatuh ke level terendah sejak akhir Januari hari sebelumnya karena konflik perdagangan China-AS meningkat.

Beijing pada hari Senin memberlakukan kenaikan tarif pada barang-barang A.S. menyusul keputusan Washington pekan lalu untuk menaikkan tarif pada impor China.

Saham di Asia dipimpin oleh kenaikan kuat di ekuitas China, yang rebound setelah dua hari mengalami kerugian. Indeks CSI 300 ditutup melonjak 2,3 persen. Meski demikian, volume dalam indeks itu mencapai sekitar 35 persen lebih rendah dari rata-rata pergerakan 30 hari.

Sementara itu, idneks Shanghai Composite menguat 1,91 persen, mengabaikan kekhawatiran tentang pertumbuhan ekonomi setelah data China yang lebih lemah dari perkiraan dirilis pada hari Rabu.

 "Saham-saham China sedang mengalami rebound karena telah oversold dalam sesi terakhir. Sentimen juga lebih baik karena Presiden Trump tampaknya menginginkan kompromi," kata Kota Hirayama, ekonom pasar senior di SMBC Nikko Securities, seperti dikutip Reuters.

Namun, Trump pada hari Selasa (15/5) mengatakan dia melakukan dialog yang "sangat baik" dengan China dan menegaskan pembicaraan antara dua ekonomi terbesar di dunia belum berakhir.

Sementara itu, China pada hari Rabu melaporkan pertumbuhan penjualan ritel dan output industri yang lebih lemah untuk bulan April, menambah tekanan pada Beijing untuk meluncurkan lebih banyak stimulus karena perang perdagangan dengan AS meningkat.

"Data terbaru menunjukkan bahwa ekonomi China masih membutuhkan stimulus. Pasar sahamnya dapat mempertahankan pemulihannya jika pemerintah mengindikasikan akan terus mendukung perekonomian," kata Hirayama.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Bursa Asia, ekonomi as

Editor : Rustam Agus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top