China akan Kenakan Tarif Impor Barang AS Senilai US$60 Miliar, Rupiah Makin Tertekan?

Kementerian Keuangan China mengumumkan rencana untuk menetapkan tarif impor atas produk Amerika Serikat senilai US$60 miliar, Senin (13/5).
Finna U. Ulfah | 14 Mei 2019 07:26 WIB
Perang dagang AS-China - istimewa

Bisnis.com, JAKARTA -- Kementerian Keuangan China mengumumkan rencana untuk menetapkan tarif impor atas produk Amerika Serikat senilai US$60 miliar, Senin (13/5/2019).

Wacana tersebut disampaikan sesaat setelah Washington lebih dulu menaikkan tarif impor atas produk China senilai US$200 miliar dari 10% menjadi 25%.

Dikutip melalui Reuters, pemerintah China akan mulai menetapkan tarif impor baru terhadap 5.140 produk AS pada 1 Juni 2019.

Kepala Riset dan Edukasi PT Monex Investindo Futures Ariston Tjendra mengatakan bahwa aksi balasan dari China terhadap kenaikan tarif AS tersebut tentu akan meningkatkan kekhawatiran pasar.

"Pelaku pasar akan mencari aset aman dan keluar dari aset berisiko, termasuk emerging markets. Rupiah akan semakin tertekan lagi," papar Ariston saat dihubungi Bisnis.com, Senin (13/5/2019).

Akibat sentimen tersebut, Ariston memprediksi pada perdagangan Selasa (14/5/2019) rupiah akan dibuka di level sekitar Rp14.450 per dolar AS dan berpotensi akan diperdagangkan di sekitar level Rp14.380 per dolar AS hingga Rp14.500 per dolar AS.

Adapun, pada penutupan perdagangan Senin (13/5/2019), rupiah melemah 0,666% atau terdepresiasi 97 poin menjadi Rp14.423 per dolar AS sebagai imbas, baik dari sentimen eksternal maupun sentimen internal yang cukup kuat.

Direktur Utama PT Garuda Berjangka Ibrahim mengatakan, katalis negatif dalam negeri masih berasal dari dari rilis data Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) pada Jumat pekan lalu.

Bank Indonesia mencatat NPI berhasil membukukan surplus senilai US$2,4 miliar pada kuartal I/2019. Namun, transaksi berjalan, yang merupakan bagian dari NPI, membukukan defisit senilai US$ 7 miliar pada 3 bulan pertama tahun ini atau setara dengan 2,6% dari PDB.

Transaksi berjalan kuartal I/2019 lebih besar dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu, yaitu senilai US$5,19 miliar atau 2,01% dari PDB.

"Jika defisit di awal tahun saja sudah lebih lebar, maka ada potensi bahwa defisit transaksi berjalan untuk keseluruhan 2019 juga akan melebar. Praktis, rupiah menjadi kehilangan pijakan untuk menguat," ujar Ibrahim seperti dikutip dari keterangan resminya, Senin (13/5/2019).

Ibrahim memperkirakan rupiah akan diperdagangkan di level Rp14.400 per dolar AS hingga Rp14.470 per dolar AS pada perdagangan Selasa (14/5/2019).

Pantau terus perkembangan Real Count KPU Pilpres 2019, di sini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Gonjang Ganjing Rupiah, perang dagang AS vs China

Editor : Riendy Astria

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top
Tutup