Emiten Batu Bara Segera Nikmati Cuan dari Bisnis Listrik

Sejumlah emiten produsen batu bara segera menikmati tambahan pendapatan dari lini bisnis ketenagalistrikan sejalan dengan beroperasinya proyek-proyek pembangkit listrik baru perseroan pada 2019.
M. Nurhadi Pratomo
M. Nurhadi Pratomo - Bisnis.com 22 April 2019  |  10:27 WIB
Emiten Batu Bara Segera Nikmati Cuan dari Bisnis Listrik
potensi batu bara Indonesia

Bisnis.com, JAKARTA — Sejumlah emiten produsen batu bara segera menikmati tambahan pendapatan dari lini bisnis ketenagalistrikan sejalan dengan beroperasinya proyek-proyek pembangkit listrik baru perseroan pada 2019.

Sekretaris Perusahaan PT Bukit Asam Tbk. Suherman mengatakan akan ada anak usaha yang dibentuk oleh PT Angkasa Pura II (Persero) dan Bukit Asam untuk menangani pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) di bandar udara (bandara) Soekarno-Hatta, Jakarta. Progres saat ini menurutnya tengah dilakukan finalisasi kerja sama.

“Bisa menjadi recurring income, tetapi melalui anak perusahaan. Target operasi direncanakan pada Juli 2019 atau Agustus 2019,” ujarnya kepada Bisnis.com, akhir pekan lalu.

Berdasarkan catatan Bisnis.com, proyek itu merupakan pilot project untuk pengembangan fasilitas sejenis di bandara lainnya. PLTS tersebut direncanakan memiliki kapasitas 1 megawatts (MW).

Pengembangan PLTS yang dilakukan oleh emiten berkode saham PTBA itu didasari oleh dua hal. Pertama, diversifikasi bisnis ke energi baru terbarukan (EBT) dan kedua menjadi perusahaan energi terintegrasi.

Seperti diketahui, Bukit Asam juga memiliki sejumlah proyek pengembangan di bidang gasifikasi atau penghiliran tambang serta pembangkit listrik. Perseroan mengganggarkan investasi Rp6,47 triliun pada 2019 dengan rincian Rp1,13 triliun untuk yang bersifat rutin dan Rp5,35 triliun pengembangan.

Beberapa proyek pengembangan miliki PTBA yakni Proyek Gasifikasi atau Penghiliran Tambang Peranap, Proyek Gasifikasi Tambang Tanjung Enim, Pembangkit Listrik (PLTU) Mulut Tambang Sumsel 8, PLTU Feni Halmahera Timur, dan proyek angkutan batu bara.

PTBA mengantongi pendapatan Rp21,16 triliun pada 2018. Realisasi itu naik 8,71% dari Rp19,47 triliun  pada 2017. Dari situ, perseroan membukukan laba bersih Rp5,02 triliun pada 2018. Pencapaian itu naik 12,23% dari Rp4,47 triliun pada 2017.

Di sisi lain, Sekretaris Perusahaan PT Dian Swastatika Sentosa Tbk. Susan Chandra mengatakan Independent Power Producer (IPP) Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Kendari-3 saat ini masih dalam tahap persiapan commercial operation date (COD). Total nilai investasi pembangunan proyek tersebut sekitar US$200 juta.

“IPP PLTU Kendari-3 diharapkan akan dapat memberikan kontribusi pendapatan sekitar 3% terhadap pendapatan perseroan tahun 2019,” ujarnya kepada Bisnis, baru-baru ini.

Sebagai catatan, IPP PLTU Kendari-3 berada di Desa Tanjung Tiram, Sulawesi Tenggara. Fasilitas itu akan memiliki kapasitas 2x50 MW.

Pengembangan IPP PLTU Kendari-3 dilakukan oleh entitas anak perseroan, PT DSSP Power Kendari. Proses peletakan batu pertama proyek tersebut dilakukan pada 2016.

Adapun, Dian Swastatika Sentosa merupakan pilar bisnis Grup Sinarmas di sektor energi dan infrastruktur.  Pada 2018, perseroan mengantongi pendapatan usaha US$1,76 miliar atau tumbuh 33,33% secara tahunan. Dari situ, emiten berkode saham DSSA itu membukukan laba bersih US$89,35 juta atau naik 5,45% dari periode 2017.

Susan mengatakan perseroan tetap fokus menjalankan bisnis ketenagalistrikan. Hal itu dengan mempertimbangkan masih terbukanya peluang yang besar dalam pembangunan pembangkit-pembangkit listrik baru untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.

Terkait dengan target IPP PLTU baru baik melalui pengembangan maupun akuisisi, dia mengatakan perseroan belum memiliki rencana spesifik. Akan tetapi, DSSA terbuka terhadap peluang pengembangan yang ada.

Sebelumnya, Head of Corporate Communication Division PT Adaro Energy Tbk. Febriati Nadira mengatakan aktivitas engineering, procurement and construction (EPC) di proyek PLTU PT Tanjung Power Indonesia (TPI) telah mencapai 99% pada akhir 2018. Rencana COD proyek itu ditargetkan pada semester I/2019. PLTU TPI berlokasi di Tanjung, Kalimantan Selatan. Proyek tersebut memiliki kapasitas 2x100 MW. 

Sebagai catatan, Adaro Energy saat ini memiliki empat pilar bisnis utama yakni Adaro Mining, Adaro Services, Adaro Logistics, dan Adaro Power. Emiten berkode saham ADRO itu mengandalkan Adaro Power untuk mengembangkan bisnis ketenagalistrikan.

Febriati mengatakan Adaro Power fokus mengembangkan bisnis ketenagalistrikan. Menurutnya, perseroan terus aktif mencari proyek pembangkit baik di dalam maupun di luar negeri. “Ke depan, kontribusi dari pilar bisnis listrik dan pilar bisnis utama lainnya diharapkan seimbang,” jelasnya.

Adaro Energy mengantongi pendapatan US$3,62 miliar pada 2018. Realisasi tersebut tumbuh 11% dari US$3,25 miliar pada 2017. Dengan demikian, laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada entitas induk perseroan senilai US$417,72 juta pada 2018. Jumlah itu turun 13,56% dari US$483,29 juta pada 2017.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
batu bara, bukit asam, kinerja emiten

Editor : Riendy Astria

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top