Laba Prodia Widyahusada (PRDA) Tahun 2018 Tumbuh 16,35 Persen

Prodia Widyahusada (PRDA) berhasil mencatatkan kenaikan laba bersih sebesar Rp175,45 miliar pada 2018, lebih tinggi 16,35% dibandingkan tahun sebelumnya Rp150,80 miliar.
Muhammad Ridwan
Muhammad Ridwan - Bisnis.com 29 Maret 2019  |  17:47 WIB
Laba Prodia Widyahusada (PRDA) Tahun 2018 Tumbuh 16,35 Persen
Direktur Utama PT Prodia Widyahusada Tbk (Prodia) Dewi Muliaty (keempat kanan) bersama General Manager Divisi Enterprise Service Segment Healthcare & Welfare Service Telkom Umar Dani (dari kanan), Direktur Marketing & Sales Infomedia Andang Ashari, Direktur Prodia Andri Hidayat, dan Direktur Indriyanti R Sukmawati melakukan prosesi peluncuran Kontak Prodia di Bandung, Jawa Barat, Rabu (26/9/2018). - JIBI/Rachman

Bisnis.com, JAKARTA - PT Prodia Widyahusada Tbk. (PRDA) berhasil mencatatkan kenaikan laba bersih sebesar Rp175,45 miliar pada 2018, lebih tinggi 16,35% dibandingkan tahun sebelumnya Rp150,80 miliar.

Pendapatan bersih PRDA juga tumbuh sebesar 9,12% menjadi Rp 1.59 triliun, dibandingkan dengan tahun sebelumnya Rp1,46 triliun.

PRDA juga membukukan kenaikan EBITDA sebesar 16,08% dari Rp239,05 miliar pada  2017 menjadi Rp277,49 miliar pada 2018. Margin EBITDA juga berhasil ditingkatkan menjadi 17,35%.

Direktur Utama Prodia Dewi Muliaty, menjelaskan kinerja positif yang ditorehkan PRDA pada tahun 2018 mencerminkan keberhasilan Prodia dalam menjaga pertumbuhan bisnisnya.

“Di tengah kondisi pasar yang penuh tantangan pada tahun 2018, Perseroan tetap mampu menjaga pertumbuhan pendapatan, EBITDA, dan laba yang cukup baik. Kami berhasil mencapai target laba bersih dengan terus berfokus pada keunggulan dan efisiensi operasional. Kami optimis dapat mempertahankan posisi keuangan yang sehat pada tahun-tahun mendatang,” jelas Dewi dalam keterangan resmi, Jumat (29/3/2019).

Laba bersih Prodia mengalami kenaikan seiring dengan peningkatan pendapatan bersih perseroan. Pada 2018, pendapatan tes laboratorium tercatat sebesar Rp 1,40 triliun atau berkontribusi sekitar 88,06% kepada pendapatan emiten berkode saham PRDA itu.

Pendapatan nonlaboratorium meningkat menjadi Rp204,47 miliar, atau naik sebesar 8,90% dibanding tahun sebelumnya yang mencapai Rp187,76 miliar.

Di samping itu, pendapatan dari masing-masing segmen pelanggan juga turut mengalami peningkatan dan memberikan kontribusi yang signifikan terhadap pendapatan perseroan.

Segmen pelanggan individu dan rujukan dokter menyumbang masing-masing sekitar 32,32% dan 30,01% kepada pendapatan perseroan. Sementara, kontribusi segmen referensi pihak ketiga dan klien korporasi sekitar 20,68% dan 16,98% terhadap pendapatan perseroan.

Sepanjang 2018, jumlah pemeriksaan mencapai 15,9 juta dan jumlah kunjungan mencapai 2,5 juta. Jumlah permintaan tes esoterik mengalami peningkatan sebesar 9% pada 2018 menjadi 517.000 tes, dari 474.000 tes pada 2017.

Pendapatan tes esoterik mengalami peningkatan sebesar 17.3% pada 2018 menjadi Rp254,86 miliar dari Rp217,33 miliar di 2017 atau berkontribusi sekitar 15,9% kepada pendapatan perseroan 2018.

Sementara itu, beban usaha mengalami peningkatan sekitar 8% menjadi Rp770,42 miliar dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai Rp712,69 miliar. Perseroan menjelaskan bahwa hal tersebut disebabkan karena meningkatnya beban pemasaran dan beban umum dan administrasi yang masing-masing mencapai sebesar Rp46,17 miliar dan Rp724,25 miliar.

Terhitung per 31 Desember 2018, PRDA merealisasikan Rp456,87 miliar dari total dana hasil bersih penawaran umum saham Rp1,14 triliun yang digunakan untuk pengembangan outlet, modal kerja, serta investasi jangkan panjang dan pendek.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
kinerja emiten, prodia

Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top