Cadangan Minyak Mentah AS Turun, WTI Sentuh Level Tertinggi di 2019

Harga minyak mentah Amerika Serikat ditutup pada posisi tertinggi baru untuk tahun ini di New York, setelah penurunan terbesar cadangan minyak mentah AS sejak Juli mengisyaratkan pengetatan pasokan lebih lanjut.
Aprianto Cahyo Nugroho
Aprianto Cahyo Nugroho - Bisnis.com 21 Maret 2019  |  07:09 WIB
Cadangan Minyak Mentah AS Turun, WTI Sentuh Level Tertinggi di 2019
Kilang BBM - Ilustrasi

Bisnis.com, JAKARTA – Harga minyak mentah Amerika Serikat ditutup pada posisi tertinggi baru untuk tahun ini di New York, setelah penurunan terbesar cadangan minyak mentah AS sejak Juli mengisyaratkan pengetatan pasokan lebih lanjut.

Minyak mentah West Texas Intermediate untuk kontrak April menguat 1,4% atau 0,80 poin ke level US$59,83 per barel pada penutupan perdagangan Rabu (20/3/2019) di New York Mercantile Exchange. Kontrak bulan Mei yang lebih aktif naik 0,94 poin ke level US$60,23.

Sementara itu, minyak patokan global, Brent, untuk pengiriman Mei menguat 0,89 poin ke level US$68,50 di ICE Futures Europe exchange yang berbasis di London. Minyak mentah Brent ditutup pada premium US$8,27 dibandingkan WTI untuk bulan yang sama.

Seperti dilansir Bloomberg, Energy Information Administration AS mencatat penurunan cadangan minyak AS sebesar 9,59 juta barel pekan lalu, melebihi ekspektasi analis, sedangkan ekspor minyak mentah AS mendekati rekor tertinggi.

Sementara itu, impor dari Arab Saudi menurun lebih dari setengahnya dan impor minyak mentah Venezuela ke AS berhenti sama sekali. Persediaan bensin dan solar domestik juga menyusut, menunjukkan permintaan yang terus meningkat.

Data EIA menunjukkan bahwa ekspor minyak mentah AS naik menjadi 3,39 juta barel per hari dalam pekan yang berakhir 15 Maret, tingkat mingguan tertinggi kedua yang tercatat sejak 1993.

"Kita tidak akan benar-benar mengandalkan peningkatan pasokan dari Venezuela atau Arab Saudi," kata Bart Melek, kepala analis komoditas global di TD Securities, seperti dikutip Bloomberg.

"Ada permintaan yang cukup kuat, sehingga meskipun produksi AS meningkat, mungkin akan ada penurunan persediaan yang lebih kuat secara musiman,” lanjutnya.

Minyak mentah telah menguat 32% sepanjang tahun ini, didukung oleh pengurangan produksi oleh OPEC dan mitra-mitranya, di samping gangguan pasokan di Iran dan Venezuela.

Sementara itu, Federal Reserve mengejutkan para pelaku pasar dengan pandangan yang lebih dovish daripada yang diperkirakan pada akhir pertemuan kebijakan pada Rabu, mengurangi kekhawatiran bahwa pertumbuhan ekonomi yang melambat akan mengurangi permintaan minyak.

"Ekspor terus menjadi sangat kuat," kata Brian Kessens, manajer portofolio dan direktur pelaksana di Tortoise. "Ada beberapa keraguan tentang seberapa besar AS bisa mengekspor dari perspektif infrastruktur dan saya pikir dengan level ekspor di atas 3 juta barel per hari akan ada kepercayaan bahwa jumlah itu dapat dipertahankan"

The Fed menurunkan proyeksi kenaikan suku bunga tahun ini menjadi nol. Gubernur The Fed Jerome Powell mengatakan ini adalah "waktu yang tepat" bagi Fed untuk "bersabar dan memantau, menunggu dan melihat,” memberikan keyakinan bahwa permintaan minyak akan tetap kuat.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
minyak mentah

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top